Ekonom UM Ingatkan Kebijakan Pembebasan Impor agar Tetap Melindungi Kepentingan UMKM
--PIXABAY/STOCKSNAP
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan langkah strategis dengan membuka keran impor sebagai respons atas kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan oleh Amerika Serikat.
Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk penyesuaian terhadap dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif dan sarat tekanan geopolitik.
Menurut Prof. Dr. Imam Mukhlis, S.E., M.Si. ekonom Universitas Negeri Malang, langkah ini ibarat “pisau bermata dua” yang perlu dikaji secara hati-hati agar tidak merugikan pelaku usaha dalam negeri. Khususnya UMKM.

Prof. Dr. Imam Mukhlis, S.E., M.Si. Wakil Dekan FEB UM juga turut andil berpendapat dalam naiknya mata uang USD
“Satu sisi kita itu membutuhkan impor untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang tidak bisa dihasilkan oleh produsen dalam negeri, juga untuk kebutuhan ekspor yang membutuhkan bahan-bahan dari luar,” jelas Prof. Imam.
Namun, ia mengingatkan bahwa liberalisasi impor yang tidak selektif justru bisa menjadi ancaman besar terhadap industri lokal.
Ia menekankan pentingnya skema prioritas dalam kebijakan ini.
“Pembebasan impor harus ada prioritas. Tidak semua dibuka lebar, tetapi ada komoditas tertentu saja, utamanya yang dibutuhkan masyarakat dan tidak diproduksi di dalam negeri,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof. Imam menyoroti pentingnya perlindungan terhadap pelaku usaha domestik, terutama UMKM, yang rentan terhadap persaingan dengan produk-produk impor berharga murah.
“UMKM ini kadang-kadang tidak bisa bicara banyak mengenai daya saing dan efisiensi. Kalau dihantam komoditas luar, itu bisa jadi masalah besar,” tegasnya.
Meski begitu, ia juga melihat peluang dari dibukanya impor, khususnya untuk barang-barang penolong atau bahan baku produksi yang bisa menekan biaya dan meningkatkan daya saing produk ekspor.
“Kalau untuk barang-barang yang dibutuhkan dalam proses ekspor, itu justru bisa membantu. Bahan baku dari impor yang lebih murah bisa menurunkan biaya produksi dan membuat harga barang kita lebih bersaing di pasar global,” ungkapnya.
Terkait kekhawatiran banjir produk impor yang dapat mematikan produk lokal, Prof. Imam mengingatkan bahwa kekuatan konsumsi rumah tangga yang besar di Indonesia bisa menjadi kekuatan sekaligus tantangan.
“Konsumsi rumah tangga kita itu bisa mencapai 60 persen dari PDB. Kalau produk lokal tidak bisa memenuhi kebutuhan itu, maka akan diisi oleh barang impor,” katanya.
Sumber:
