25 Tahun Rawat Mangrove Clungup Malang, Konservasi Hasilkan Miliaran Rupiah
Hasto Kristiyanto bersama aktivis lingkungan dan ratusan anak muda mendorong konservasi mangrove Clungup, Malang,-Dok. PDIP---
Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja dapat mengambil peran nyata dalam menjaga lingkungan. Upaya itu membutuhkan konsistensi, pendampingan, dan keberlanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Pesan tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan di Clungup, yakni mempertemukan pengalaman para aktivis lingkungan dengan gagasan dan inisiatif anak muda dari berbagai daerah.
Kegiatan itu juga disiarkan melalui Webinar Nasional Tunas Hijau seri ke-319 bertema Konservasi, Dialog & Kolaborasi untuk Bumi. Lebih dari 3.000 pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat umum disebut mengikuti kegiatan tersebut.
Hasto: Konservasi Harus Berdampak bagi Masyarakat
Dalam dialog bersama peserta, Hasto Kristiyanto menekankan bahwa gerakan konservasi harus berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. Kerusakan lingkungan perlu diidentifikasi, dibahas bersama, kemudian ditangani melalui pengetahuan, keterampilan, teknologi, dan sumber daya yang tersedia.
Ia mencontohkan pemulihan ekosistem yang harus memperhatikan karakteristik lokasi. Selain mangrove, vegetasi pesisir seperti cemara udang dan ketapang juga dapat berperan dalam menjaga lingkungan sesuai kondisi kawasan.
Hasto menegaskan bahwa konservasi tidak seharusnya dipandang sebagai penghambat kegiatan ekonomi. Sebaliknya, aktivitas ekonomi perlu dikembangkan tanpa merusak ekosistem yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Dalam persoalan kebakaran hutan, ia menyoroti pentingnya tata ruang, perlindungan kawasan konservasi, penegakan hukum, serta sistem mitigasi bencana. Gerakan individu dan komunitas dinilai penting, tetapi tetap perlu didukung kebijakan pemerintah.
Dialog tersebut juga membahas berbagai persoalan lingkungan yang disampaikan peserta. Di antaranya, tantangan revitalisasi sungai, pemulihan biota, keterbatasan pendanaan, hingga dampak kebakaran hutan terhadap kesehatan dan mata pencaharian warga.
Alternatif ekonomi berbasis konservasi, pendidikan lingkungan, perbaikan tata ruang, serta penegakan hukum menjadi sejumlah pendekatan yang dibahas dalam kegiatan tersebut.
CMC Membidik Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas
Selain memperkuat ekowisata, CMC Tiga Warna tengah menjajaki peluang perdagangan karbon berbasis komunitas. Gagasan ini didorong agar masyarakat yang selama bertahun-tahun merawat mangrove dapat memperoleh manfaat ekonomi dari upaya pemulihan ekosistem.
Anggota DPR RI Andreas Eddy Susetyo menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Namun, pengembangan perdagangan karbon membutuhkan sejumlah persyaratan, termasuk legalitas kawasan, sertifikasi, penghitungan penyerapan karbon yang kredibel, dan pencatatan unit karbon dalam Sistem Registri Unit Karbon Nasional (SRUK).
Andreas menargetkan CMC dapat menjadi salah satu pelopor perdagangan karbon berbasis komunitas. Target tersebut masih memerlukan proses pemenuhan persyaratan teknis dan administratif, sehingga belum dapat dianggap sebagai perdagangan karbon yang telah berjalan.
Peluang tersebut dinilai dapat memperluas sumber pendanaan konservasi. Namun, manfaat ekonomi perlu disalurkan secara berkelanjutan kepada komunitas yang menjaga kawasan, tanpa mengurangi fungsi ekologis mangrove.
Sumber: harian disway










