Mahasiswa UM Kembangkan Pembelajaran Matematika SD lewat Budaya Topeng Malangan
--um.ac.id
LOWOKWARU, DISWAYMALANG.ID—Sebuah inovasi pembelajaran digital karya mahasiswa Universitas Negeri Malang berhasil menjawab tantangan pembelajaran matematika di sekolah dasar yang sering dianggap abstrak dan kurang kontekstual.
Tim Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) dari Fakultas Ilmu Pendidikan UM menghadirkan pendekatan baru dengan mengintegrasikan konsep geometri dasar dan budaya lokal Topeng Malangan. Inovasi ini diwujudkan dalam sebuah website pembelajaran bernama Sutoma, singkatan dari Sudut Topeng Malangan, yang dirancang khusus untuk membantu siswa SD memahami konsep sudut dalam geometri dengan lebih nyata dan menarik.
BACA JUGA:Booth Fakultas Peternakan UB di Expo Pendidikan UB 2026 Ramai Dikunjungi
Tim yang diketuai oleh Vika Cahya Kurnia bersama dan tiga anggota, yakni Sinta, Anggya, dan Farah, memulai gagasan ini setelah mengamati fenomena lemahnya pemahaman siswa pada materi sudut. Menurut Sinta, mayoritas siswa masih kesulitan memahami konsep sudut karena pembelajaran selama ini cenderung bersifat teoritis dan kurang mengaitkan materi dengan fenomena nyata di sekitar mereka.
“Pembelajaran yang cenderung abstrak membuat siswa sulit membangun kemampuan numerasi yang optimal. Kami berharap pendekatan ini bisa membantu mereka melihat matematika dalam kehidupan nyata,” ujar anggota tim tersebut.
BACA JUGA:Semeru Team UM Juara Shell Eco-marathon Qatar 2026, Lolos Global Championship Dunia
Sutoma dirancang dengan pendekatan inkuiri terbimbing, yang membagi proses pembelajaran menjadi beberapa tahap: pendahuluan, inti, dan penutup. Materi inti disajikan secara interaktif dengan contoh jenis sudut yang diambil dari ornamen topeng maupun gerakan dalam Tari Topeng Malangan, sehingga siswa dapat melihat hubungan konsep matematika dan budaya lokal secara langsung. Website ini juga dilengkapi latihan soal sebagai sarana refleksi pemahaman siswa atas materi yang dipelajari.
Dalam pelaksanaannya, inovasi tersebut mendapat sambutan positif dari siswa dan guru. Anggya, salah satu anggota tim, menyampaikan bahwa sebagian besar siswa mampu mengerjakan tugas di website dengan menerapkan perhitungan sesuai materi yang mereka pelajari.
BACA JUGA:Universitas Negeri Malang Terima 16 Mahasiswa SEA Teacher Batch 11 dari Filipina
Meski demikian, tim menghadapi tantangan dalam menyesuaikan desain user interface agar ramah dan menarik bagi siswa SD, serta memastikan contoh gerakan Tari Topeng Malangan yang digunakan benar-benar merepresentasikan konsep sudut.
Berdasarkan hasil uji coba dan respons pengguna, Tim LIDM FIP UM berharap agar inovasi Sutoma dapat menjadi alternatif pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan tetap memupuk kecintaan siswa terhadap budaya lokal Topeng Malangan sejak dini.
Sumber: um.ac.id
