UB Rombak Kurikulum Teknik Biosistem, Perkuat AI, IoT, Drone, dan Pertanian Presisi
FTAB Gelar Diskusi Pengembangan Akademik dan Kurikulum Teknik Pertanian dan Biosistem--Prasetyaub
BACA JUGA: Mesin Sagu UB Pangkas Waktu Pengolahan dari 7 Hari Jadi 3 Jam, Bantu Ekonomi Warga Sorong
Menurutnya, fondasi keilmuan teknik tetap harus kuat. Lulusan juga perlu memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat atau long-life learning agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan memenuhi tuntutan akreditasi internasional, termasuk IABEE.
Dari sektor ketahanan pangan, Direktur Pengadaan Perum BULOG Prihasto Setyanto menyoroti persoalan pascapanen yang masih menjadi titik lemah rantai pasok pangan Indonesia.
Ia menilai lulusan Teknik Biosistem perlu menguasai logistik modern, teknologi penyimpanan, dan analisis mutu. Kompetensi tersebut dibutuhkan untuk menekan kehilangan hasil pangan atau food loss serta memperkuat cadangan pangan nasional.
Perspektif riset dan modernisasi teknologi disampaikan Agung Prabowo dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian, Kementerian Pertanian. Ia menekankan pentingnya teknologi pascapanen yang presisi, hemat energi, mudah dioperasikan petani, dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut oleh industri kecil dan menengah.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Shriram Seed Indonesia Suwarno menyoroti perubahan industri benih menuju pertanian berbasis data.
Menurutnya, lulusan tidak cukup hanya memahami mekanisasi pertanian. Mereka juga perlu mampu mengoperasikan drone, membaca data iklim dan tanah, serta menerapkan smart farming untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas benih.
BACA JUGA: UB Bekali Pekerja Migran di Taiwan Teknologi Vacuum Frying agar Siap Buka Usaha saat Pulang
Dari sektor perkebunan, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Abdul Roni Angkat menekankan pentingnya rekayasa teknologi untuk hilirisasi komoditas perkebunan.
Kompetensi lain yang dibutuhkan meliputi mekanisasi di lahan miring dan penerapan prinsip pertanian regeneratif. Hal ini dinilai relevan bagi komoditas strategis seperti tebu, kopi, dan kelapa sawit.
Kurikulum Disiapkan Menjawab Kebutuhan Dunia Kerja
Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan dosen, alumni, dan mahasiswa. Mereka memberikan masukan berdasarkan pengalaman pembelajaran serta kebutuhan dunia kerja.
Ketua Departemen Teknik Biosistem FTAB UB Akhmad Adi Sulianto mengatakan, seluruh masukan tersebut akan menjadi bahan utama untuk menyempurnakan dokumen kurikulum.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan lembaga riset diharapkan menghasilkan lulusan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata di sektor pertanian.
Sumber: prasetya.ub.ac.id









