MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Hari Sabtu, 5 Juli 2025, bukan sekadar akhir pekan biasa bagi masyarakat Indonesia.
Tanggal ini menjadi momen penting karena diperingati sebagai Hari Bank Indonesia, yang menandai tonggak sejarah berdirinya bank sentral Indonesia.
Perayaan ini mengajak masyarakat untuk menilik kembali sejarah sistem keuangan dan lembaga perbankan di Tanah Air.
Era Penjajahan
Awal mula sistem perbankan di Indonesia bermula ketika bangsa Eropa datang ke Asia Tenggara, khususnya ke wilayah Nusantara, untuk mencari rempah-rempah.
Seiring kedatangan mereka, mata uang asing mulai beredar di pasar lokal, termasuk Picis dari Tiongkok dan Real dari Spanyol.
Pada 1602, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) didirikan oleh Belanda untuk menguasai perdagangan rempah.
Seiring aktivitas mereka, lembaga keuangan pertama di Indonesia yang saat itu masih disebut Hindia Belanda pun terbentuk: Bank Van Courant pada 1746, yang kemudian berubah menjadi De Bank van Courant en Bank van Leening pada 1752.
Bank ini menjalankan peran mirip dengan pegadaian, namun bangkrut pada 1818.
Tahun 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan De Javasche Bank (DJB), yang berfungsi sebagai bank sirkulasi dengan hak mencetak uang Gulden.
De Javasche Bank, Surabaya--Harian Disway
DJB membuka banyak cabang di berbagai wilayah Indonesia sebagai penunjang kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel).
Diawali BNi 46
Setelah masa penjajahan Jepang dan kembali direbut oleh Belanda, Indonesia akhirnya membentuk bank sentral sendiri, yakni Bank Negara Indonesia (BNI) pada 5 Juli 1946.
BNI berperan penting dalam penerbitan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang menandai kedaulatan ekonomi Indonesia.