Proses Pemilihan Paus Akan Segera Digelar, Ini Gambaran Proses Pemilihan dan Tugas-Tugas Paus Baru Nanti

Minggu 04-05-2025,07:26 WIB
Reporter : Immanuela Regina
Editor : Agung Pamujo

MALANG, DISWAYMALANG.ID -- Tanggal (7/5) mendatang akan menjadi salah satu momen bersejarah dalam kalender Gereja Katolik. Seluruh mata dunia akan tertuju ke Vatikan, tepatnya ke Kapel Sistina, tempat berlangsungnya konklaf—proses pemilihan Paus baru.

Ini bukan sekadar pemilu ala Vatikan, melainkan sebuah ritual kuno yang telah berlangsung selama hampir delapan abad. Momen yang sakral, penuh simbol, dan—yang paling membuat penasaran—diselimuti oleh kabut kerahasiaan.

Paus Francis telah wafat, dan Gereja Katolik tengah memasuki masa duka. Setelah masa berkabung dan misa pemakaman selesai, para kardinal dari seluruh dunia berkumpul di Roma. Mereka tak hanya membawa salib dan jubah, tetapi juga harapan umat dari berbagai benua. Harapan akan arah baru Gereja, akan jawaban-jawaban atas persoalan-persoalan pelik yang selama ini belum tuntas. Dan semua itu akan bergantung pada satu hal: siapa yang akan keluar dari Kapel Sistina sebagai penerus Takhta Santo Petrus?

Bagaimana proses ini akan berjalan?

1. Konklaf: Ritual Tertutup Penuh Simbol

Konklaf, dari kata Latin cum clave ("dengan kunci"), secara harfiah berarti para kardinal dikunci dalam satu tempat sampai mereka memilih Paus baru. Tradisi ini dimulai sejak abad ke-13, ketika para kardinal yang dianggap terlalu lama memilih akhirnya “dikunci” dan hanya diberi roti serta air. Tujuannya? Supaya mereka cepat membuat keputusan. Meski zaman telah berubah, semangat keterasingan dan tekanan batin itu tetap dipertahankan hingga hari ini.

Kini, tempat suci itu adalah Kapel Sistina. Pada (7/5) nanti, para kardinal akan berjalan memasuki kapel yang megah itu, disertai doa dan nyanyian. Setelah misa khusus, seorang uskup agung bernama Diego Ravelli akan berdiri di depan pintu dan meneriakkan, "Vacante omnes!" atau dalam bahasa Italia: "Semua keluar!"—kecuali para kardinal. Pintu akan ditutup, dan dunia pun takkan tahu apa yang terjadi di dalamnya, kecuali lewat simbol asap.

2. Asap Hitam, Asap Putih

Bagi orang luar kapel, hanya ada satu cara untuk mengetahui hasil konklaf: lewat cerobong asap. Setiap kali pemungutan suara selesai, kertas suara akan dibakar. Jika belum tercapai keputusan, maka dari cerobong akan keluar asap hitam. Jika Paus telah terpilih, asap putih mengepul. Momen asap putih inilah yang menjadi pertanda bagi dunia: kita punya Paus baru.

Tradisi ini memang unik. Namun di balik kesederhanaan simbol itu, terdapat ketegangan tinggi, debat intens, dan pertimbangan-pertimbangan yang mendalam. Tak ada kampanye politik seperti pemilu biasa, tetapi tentu saja para kardinal telah saling mengenal, saling memperkirakan kekuatan, dan tentu saja—memiliki preferensi pribadi.

3. Oath of Secrecy: Sumpah Diam Seribu Bahasa

Sebelum pintu ditutup, seluruh kardinal dan staf Vatikan yang terlibat akan mengucapkan sumpah kerahasiaan. Ini bukan formalitas belaka. Melanggar sumpah ini bisa berujung ekskomunikasi. Bahkan sopir, petugas medis, juru masak, hingga petugas kebersihan juga harus berjanji tak akan membocorkan apa pun. Vatikan benar-benar serius menjaga rahasia ini.

Tak hanya itu. Kapel Sistina dan kompleks apostolik disapu dari potensi pengawasan modern. Kamera tersembunyi, mikrofon rahasia, bahkan kemungkinan drone—semuanya diantisipasi. Petugas keamanan bersenjata akan berjaga di luar, memastikan tak ada gangguan. Ini adalah operasi tertutup paling rumit yang dilakukan Gereja setiap beberapa dekade.

4. Paus Baru: Melanjutkan Jejak Francis?

Paus Francis dikenal sebagai pemimpin yang progresif dan humanis. Ia membuka ruang diskusi untuk isu-isu seperti peran perempuan dalam Gereja, dan membuka diskusi mengenai LGBTQ+, hingga relasi yang lebih setara dengan negara-negara di belahan selatan dunia. Banyak umat yang berharap, semangat ini akan berlanjut di bawah Paus berikutnya.

Kategori :