Menguak Peta Kekuatan AI Dunia, Siapa yang Bakal Memimpin?

Sabtu 03-05-2025,18:58 WIB
Reporter : Tazqia Aulia Zalzabillah
Editor : Agung Pamujo

Sementara itu, Eropa mengambil jalur berbeda. Negara-negara seperti Britania Raya (US$4,52 miliar), Swedia (US$4,34 miliar), dan Jerman (US$1,97 miliar) tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga mengedepankan tata kelola AI yang etis dan transparan. 

Fokus mereka terarah pada penggunaan AI untuk kepentingan publik, diimbangi dengan regulasi yang hati-hati.

Kanada dan Prancis juga mencatatkan langkah berarti dengan masing-masing US$2,89 miliar dan US$2,62 miliar, menyoroti pentingnya kolaborasi antara universitas, lembaga riset, dan industri untuk mempercepat inovasi.

Menariknya, sejumlah negara dengan ekonomi yang lebih kecil justru menunjukkan semangat luar biasa. 

Uni Emirat Arab (US$1,77 miliar), Austria (US$1,51 miliar), dan Israel (US$1,36 miliar) bergerak cepat dengan kebijakan negara yang proaktif, insentif untuk startup, serta pembangunan pusat inovasi berbasis teknologi mutakhir.

Lanskap ini memperlihatkan bahwa dalam perlombaan AI, bukan hanya besaran dana yang penting, tetapi juga arah strategi, keberanian berinovasi, dan kemampuan menyiapkan talenta unggul. 

BACA JUGA:Lagi Soal AI, Jadi Tema Hari Kebebasan Pers, Perannya Masih Jadi Perdebatan: Efisiensi atau Bencana?

Negara dengan Jumlah Perusahaan AI Terbanyak

Berdasarkan laporan The AI Index Report 2025 dari Stanford University, Amerika Serikat tidak hanya unggul dalam hal besarnya investasi AI, tetapi juga menjadi rumah bagi 1.073 perusahaan AI baru yang mendapatkan pendanaan sepanjang tahun 2024. 

Ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan investor terhadap iklim inovasi di Negeri Paman Sam.

Kesuksesan ini didukung oleh ekosistem teknologi yang matang di mana universitas, investor, dan inkubator startup saling terhubung dalam ekosistem yang terus mendorong terobosan baru. 

Silicon Valley hanyalah satu dari sekian banyak titik panas inovasi yang tersebar di seluruh penjuru Amerika.

Di luar AS, Britania Raya dan China menyusul di posisi dua dan tiga dengan masing-masing 116 dan 98 perusahaan baru yang berhasil memperoleh pendanaan. 

Meski jaraknya jauh dari AS, angka ini tetap menunjukkan lonjakan semangat inovasi, khususnya di sektor teknologi berbasis startup. 

Di China, arah kebijakan nasional yang agresif terhadap AI mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan baru di bidang seperti kendaraan otonom, pengenalan wajah, hingga robotika cerdas.

Sementara itu, India (74 perusahaan), Jerman (67 perusahaan), dan Prancis (59 perusahaan) menunjukkan taringnya sebagai kekuatan baru dalam ekosistem AI global. 

India memanfaatkan kekuatan SDM-nya yang besar, terutama dari kalangan muda dan berbasis teknologi, serta ongkos produksi yang lebih efisien. 

Kategori :