Sering Merasa “Mothering” ke Pasangan? Apa Itu dan Bagaimana Menghindarinya?

Kamis 01-05-2025,11:59 WIB
Reporter : Immanuela Regina
Editor : Agung Pamujo

1.Memberi saran saat diminta, bukan memberi instruksi terus-menerus

2.Mendukung keputusan, bukan mengambil alih keputusan

3.Memvalidasi perasaan, bukan menyuruh atau menenangkan secara paksa

Jika perhatian membuat pasangan jadi lebih bertanggung jawab dan berkembang, maka itu sehat. Tapi jika perhatian membuat pasangan justru makin pasif, maka perlu refleksi.

7. Refleksi diri: kenali kebutuhan untuk mengontrol

Mothering sering berakar dari rasa cemas yang tinggi. Misalnya: takut pasangan gagal, takut hubungan berantakan, atau takut kehilangan. Dorongan untuk mengontrol lalu dibungkus dalam bentuk perhatian.

Perlu refleksi: apakah tindakan yang dilakukan benar-benar karena cinta, atau karena dorongan cemas dan takut? Dengan mengenali kebutuhan ini, maka pola bisa mulai diubah.

8. Mengembalikan peran sebagai partner sejajar

Langkah awal untuk keluar dari mothering adalah membangun ulang relasi sebagai partner, bukan pengasuh. Ini bisa dimulai dari:

1.Membagi tanggung jawab dengan adil

2.Menghentikan kebiasaan mengambil alih keputusan

3.Membiarkan pasangan belajar dari kesalahan

4.Memberi ruang untuk bertumbuh tanpa selalu diintervensi

Relasi yang setara tidak selalu rapi, tapi memberi ruang untuk kedewasaan kedua pihak.

9. Komunikasi ulang tentang peran dan harapan dalam relasi

Perlu percakapan jujur tentang apa yang dirasakan, apa yang diharapkan, dan bagaimana relasi bisa dibangun secara timbal balik. Komunikasi ini tidak hanya tentang menyampaikan keluhan, tapi juga tentang menyepakati peran yang sehat dan setara.

Kategori :