Kalau pakai icon, tidak boleh asal ambil dari internet sembarangan.
Harus diputuskan: Apakah icon-nya solid, outline, duotone, atau flat color? Apakah sudut icon tumpul (rounded) atau tajam (sharp)? Apakah semua icon perlu punya ukuran ketebalan garis yang sama?
Buat atau pilih satu set iconography dan pakai terus.
Jangan sampai di satu poster pakai icon outline, di poster lain pakai icon flat warna-warni—branding jadi berantakan!
7. Buat Template Master untuk Semua Format
Supaya semua orang di tim bisa membuat desain yang konsisten, buat template master: Template feed Instagram (dengan grid dan margin tetap), Template poster A3, A4, Template presentasi (PowerPoint atau Keynote), Template banner web.
Template ini memuat semua pengaturan warna, font, grid, margin, sampai logo placement.
Dengan adanya template, produksi konten lebih cepat, dan konsistensi tetap terjaga.
8. Standarisasi Treatment Motion Graphic Design
Kalau brand juga pakai video atau animasi, treatment motion juga harus konsisten.
Tentukan:Durasi transisi standar, Gaya animasi (smooth fade, bouncy, linear cut), Style bumper opening dan closing, Video explainer, reels, bahkan GIF untuk ads harus pakai gaya transisi dan grafis yang seragam.
Motion design adalah bagian dari branding visual yang sering disepelekan padahal krusial.
9. Update Style Guide Secara Berkala
Brand terus berkembang. Karena itu, style guide harus direvisi setiap1 tahun, tapi dengan pendekatan evolusi (pengembangan dari dasar), bukan revolusi (merubah total).
Artinya, perubahan kecil: memperbarui shade warna, memperjelas aturan layout, atau memperbaiki preset foto. Jangan asal rebranding besar-besaran tanpa perhitungan.
Kalau setiap perubahan kecil dicatat dan disepakati, konsistensi tetap terjaga meski desain berevolusi mengikuti zaman.