5. Olo: Warna 010 dalam Bahasa Mata
Secara teknis, warna yang kita lihat terbentuk oleh kombinasi sinyal dari tiga jenis sel kerucut (cone cells) di retina: L (long), M (medium), dan S (short). Tapi dalam kasus olo, hanya sel M yang diaktifkan.
Itulah sebabnya warna ini dinamakan olo, mewakili kode biner 010—hanya kerucut M yang aktif, sedangkan L dan S tidak. Situasi ini nyaris mustahil terjadi dalam penglihatan alami manusia, karena biasanya ketiganya bekerja bersamaan untuk menghasilkan persepsi warna yang kompleks.
6. Warna Ini Tak Bisa Dicocokkan dengan Apa Pun
Sebagai bagian dari uji coba, para partisipan diberi alat pemilih warna digital dan diminta menyesuaikan warna hingga menyerupai olo yang mereka lihat. Hasilnya? Tak ada satu pun warna dari spektrum yang bisa benar-benar menyamai.
Bahkan untuk mendekati warna tersebut, mereka harus menambahkan cahaya putih ke warna yang sudah ada. Ini menunjukkan bahwa olo berada di luar gamut warna manusia. Ia bukan hanya tidak dikenal, tapi secara teknis tak bisa direproduksi dengan alat apa pun di dunia saat ini.
7. Harapan Baru untuk Mereka yang Buta Warna
Meski terlihat seperti eksperimen eksklusif untuk pencinta warna ekstrem, temuan ini membuka kemungkinan baru bagi dunia medis. Dengan menstimulasi sel kerucut tertentu secara terpisah, teknologi Oz bisa membantu menciptakan pengalaman visual alternatif bagi penderita buta warna.
Jika dikembangkan lebih lanjut, mereka yang tak bisa membedakan merah dan hijau—jenis buta warna paling umum—mungkin suatu hari bisa diberi “akses” untuk melihat warna yang selama ini tertutup bagi mereka. Bukan dengan menyembuhkan, tapi dengan mengelabui sistem visual lewat teknologi canggih.
8. Tapi Tak Semua Ilmuwan Sepakat
Seperti banyak penemuan besar lain, klaim tentang olo juga mendapat penolakan dari kalangan akademisi lain. Salah satunya Prof. John Barbur, ilmuwan penglihatan dari City St George’s, University of London.
Ia menyebut warna itu bukanlah sesuatu yang benar-benar baru, melainkan hanya versi ultra-jenuh dari warna hijau yang bisa terjadi dalam kondisi eksperimen ekstrem. “Nilai ilmiahnya terbatas,” kata Barbur. Ia juga menegaskan bahwa persepsi olo hanya bisa terjadi pada orang dengan sistem warna merah-hijau yang normal!
9. Sulit Diaplikasikan ke Layar Ponsel atau TV
Melihat olo lewat layar HP? Tampaknya itu hanya mimpi. James Fong, salah satu penulis utama studi ini, menegaskan bahwa teknologi ini masih sangat jauh dari bisa diadaptasi untuk perangkat elektronik konsumen.
Alasannya sederhana: sistem Oz bergantung pada laser dan optik khusus yang sangat kompleks dan mahal. Butuh alat besar, ruangan gelap, dan kalibrasi tinggi untuk bisa bekerja. Jadi untuk saat ini, olo tetap menjadi warna yang hanya bisa diakses di ruang laboratorium dengan protokol ketat!
Olo, Warna dari Dunia yang Belum Kita Kenal
Penemuan olo bukan sekadar soal warna baru. Ia adalah bukti bahwa bahkan dalam hal yang kita pikir sudah sepenuhnya kita pahami—seperti warna—masih ada hal yang bisa mengejutkan.