Festival Tabebuya Kota Batu Absen, Mekarnya Bunga Jadi Pengobat Rindu Wisatawan

Selasa 20-10-2026,14:01 WIB
Reporter : Muhammad Sholeh
Editor : Mohammad Khakim

‎"Setahun sekali. Dan kemarin kita kolaborasi dengan Arhanud. Pas biasanya mekarnya kan setelah musim kemarau mau musim penghujan, ini kan muncul bunganya itu," jelas Tri.

‎Festival Tabebuya bukan sekadar soal melihat bunga. Tahun lalu, rangkaiannya sangat lengkap dan melibatkan banyak pihak.

BACA JUGA:Mesin Sagu UB Pangkas Waktu Pengolahan dari 7 Hari Jadi 3 Jam, Bantu Ekonomi Warga Sorong

Ada parade dan pameran alutsista milik TNI yang selalu jadi daya tarik anak-anak, ada bazar UMKM yang menghidupkan ekonomi warga lokal, ada atraksi seni budaya, senam massal, cek kesehatan gratis, hingga panggung hiburan rakyat.

‎Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto sebelumnya menyebut festival ini adalah cara cerdas memadukan keindahan alam dengan pemberdayaan masyarakat dan sinergi dengan TNI.

‎Bagi Desa Pendem sendiri, Tabebuya memiliki makna lebih dari sekadar penghias jalan. Sebanyak 500 pohon Tabebuya yang ditanam sejak 2019 di Jalan Semeru membentang hampir satu kilometer. Menjadi gerbang utama menuju konsep wisata Lumbung Bumi Pendem yang mengandalkan hamparan sawah dan keasrian alam desa.

‎BACA JUGA:Limbah Sawit Pangkas Biaya Pakan Ternak hingga 40%, Peternak Malang Raya Didorong Manfaatkan

‎Kini, meski tanpa panggung festival, pesonanya tidak berkurang. Hingga awal Oktober ini, tingkat mekar bunga di Desa Pendem sudah mencapai sekitar 80 persen. Keindahannya tetap bisa dinikmati siapa saja secara gratis.

‎Jadi, bagi Anda yang ingin menikmati momen langka ini, tidak perlu menunggu festival. Cukup datang ke Pendem, berjalan di bawah rindangnya pohon Tabebuya yang sedang mekar penuh, dan abadikan momen musim semi ala Kota Batu yang hanya datang sekali dalam setahun.

Kategori :