25 Tahun Rawat Mangrove Clungup Malang, Konservasi Hasilkan Miliaran Rupiah

Minggu 18-10-2026,14:51 WIB
Reporter : Mohammad Khakim
Editor : Mohammad Khakim

MALANG, DISWAYMALANG.ID – Hutan mangrove di pesisir selatan Kabupaten Malang menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi warga. Selama sekitar 25 tahun, penggerak konservasi Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Saptoyo, bersama masyarakat setempat berupaya memulihkan ekosistem pesisir.

Kawasan yang dikelola masyarakat melalui Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru itu kini berkembang menjadi destinasi ekowisata berbasis konservasi. Manfaatnya tidak hanya berupa perlindungan lingkungan, tetapi juga peluang kerja bagi pemandu wisata, nelayan, penyedia konsumsi, dan warga sekitar.

Upaya tersebut kembali menjadi perhatian dalam kegiatan bertema Tekad Merawat Pertiwi Berdampak Ekonomi: Dari Anak Muda Clungup Malang Selatan untuk Indonesia Lebih Baik, Sabtu (17/10/2026). Acara itu menghadirkan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Saptoyo, serta Presiden Tunas Hijau Indonesia Mochamad Zamroni, bersama ratusan anak muda dan pegiat lingkungan.

25 Tahun Memulihkan Ekosistem Pesisir

Saptoyo, yang juga peraih Kalpataru 2016 dan Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru, menceritakan perjalanan panjang rehabilitasi mangrove di Clungup. Proses tersebut tidak selalu mudah. Para penggerak konservasi harus menghadapi berbagai tantangan dengan mengandalkan semangat gotong royong dan kerelaan.

“Tidak sedikit dari kawan kami yang meneteskan darah karena kecelakaan kerja. Tidak ada kompensasi apa pun dan tidak ada yang menuntut karena semua berdasarkan kerelaan,” tutur Saptoyo.

Dalam pemaparannya, Saptoyo menyebut rehabilitasi kawasan mangrove telah mencapai 158 hektare dengan 46 jenis mangrove. Kawasan tersebut juga menjadi habitat bagi 55 jenis burung dan lokasi penyu bertelur.

Ia turut menyampaikan bahwa kawasan itu telah memberikan manfaat ekonomi bagi sekitar 60 pekerja, termasuk warga yang menyediakan konsumsi bagi pengunjung dan kelompok nelayan perahu. Menurut perhitungannya, manfaat ekonomi langsung yang dihasilkan mencapai Rp2 miliar per tahun.

Angka tersebut merupakan paparan Saptoyo dalam kegiatan di Clungup. Sementara itu, publikasi Kementerian Kehutanan dalam State of Indonesia’s Forests (SOIFO) 2026 menyebut CMC Tiga Warna mencatat omzet sekitar Rp3,2 miliar per tahun. Kedua angka itu menggunakan penyebutan indikator yang berbeda sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai angka yang sama.

Kementerian Kehutanan juga mencatat keberadaan 60 pemandu terlatih, 11 penyelam, dan empat personel penyelamatan bersertifikat di kawasan tersebut. Publikasi itu menyebut sedikitnya 45 jenis mangrove dan 55 jenis burung sebagai bagian dari kekayaan ekosistem CMC Tiga Warna.

Anak Muda Didorong Melakukan Aksi Nyata

Selain rehabilitasi ekosistem, pendidikan lingkungan menjadi bagian penting dalam gerakan konservasi Clungup. Mochamad Zamroni, yang akrab disapa Roni, menilai generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk menjalankan proyek lingkungan secara berkelanjutan.

Melalui program Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup yang berlangsung sejak 2002, Tunas Hijau Indonesia mendorong pelajar membuat proyek sesuai persoalan lingkungan di sekitarnya.

Roni mencontohkan pelajar yang berhasil membudidayakan 35 ribu bibit mangrove untuk ditanam bersama komunitas petani setempat. Ada pula pelajar yang mengolah 110 kilogram sampah organik dalam sehari.

Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja dapat mengambil peran nyata dalam menjaga lingkungan. Upaya itu membutuhkan konsistensi, pendampingan, dan keberlanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat.

Kategori :