Hari Tanpa Kekerasan 2 Oktober: KDRT dan Bullying di Malang Raya, Ini Datanya

Jumat 02-10-2026,06:43 WIB
Reporter : Mohammad Khakim
Editor : Mohammad Khakim

Karena itu, pencegahan bullying tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus sudah terjadi. Sekolah, keluarga, teman sebaya dan lingkungan masyarakat perlu membangun sistem yang membuat korban berani berbicara dan mendapatkan pendampingan.

Semangat Gandhi Dimulai dari Lingkungan Terdekat

Hari Internasional Tanpa Kekerasan 2 Oktober pada akhirnya bukan sekadar peringatan tentang Mahatma Gandhi. Pesan utamanya dapat diterapkan dalam hubungan antarmanusia sehari-hari.

Di keluarga, prinsip tersebut berarti menolak pemukulan, penghinaan, ancaman, pemaksaan maupun bentuk kontrol yang merendahkan pasangan dan anggota keluarga.

Di sekolah, semangat tanpa kekerasan berarti tidak menjadi pelaku maupun penonton yang membiarkan bullying. Anak yang melihat perundungan juga perlu memiliki keberanian untuk melapor dan membantu korban mendapatkan pertolongan.

Sementara di ruang digital, budaya tanpa kekerasan berarti tidak ikut menyebarkan penghinaan, ancaman, doxing, pelecehan atau konten yang mempermalukan orang lain.

PBB pada pesan Hari Internasional Tanpa Kekerasan 2026 kembali menekankan keberanian, empati, martabat dan kemanusiaan yang dicontohkan Gandhi.

Semangat tersebut dapat dimulai dari Malang Raya: dari rumah, sekolah, lingkungan kerja hingga ruang digital. Sebab budaya tanpa kekerasan bukan hanya dibangun melalui kebijakan besar, tetapi juga melalui cara setiap orang menyelesaikan konflik dan memperlakukan orang lain.

Kategori :