BACA JUGA:Es Krim Gabin Kota Malang Laris 80 Porsi Sehari, Harga Cuma Rp12 Ribu
3. Polo Pendem di Car Free Day Stadion Brantas
Kawasan Car Free Day (CFD) di Stadion Gelora Brantas setiap akhir pekan tak hanya menjadi ruang untuk olahraga dan rekreasi, tetapi juga telah berkembang menjadi ruang publik yang mendorong gaya hidup sehat, termasuk dalam hal kuliner.
Salah satu pelopor jajanan sehat di CFD adalah lapak milik Nisa Siregar, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Bumiaji.
Nisa jeli melihat peluang. Di tengah banyaknya jajanan berbahan tepung dan gorengan yang dijual di kawasan CFD, ia justru memilih menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni aneka makanan kukusan polo pendem.
BACA JUGA:5 Sate Kelinci Kota Batu yang Legendaris, Ada Rabbit Satay hingga Warung Pak Atim
Keputusannya terbukti tepat. Dagangannya laris manis diburu pengunjung CFD yang ingin menikmati camilan sehat setelah berolahraga. Kehadiran polo pendem di tengah arena CFD sekaligus menjadi alternatif jajanan sehat bagi masyarakat.
Bertahannya polo pendem di Kota Batu menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak akan pernah kehilangan tempatnya. Selama disajikan dengan cara yang bersih, hangat, dan harga terjangkau, polo pendem akan selalu menjadi pilihan favorit warga untuk sarapan dan camilan sehat sehari-hari.
4. Polo Pendem di Burning Bar
Polo pendem juga mendapat tempat di konsep kuliner yang lebih modern. Burning Bar mengangkat bahan pangan lokal sebagai bagian dari menu utamanya.
Menu polo pendem di tempat ini antara lain ketela Kawi, kentang dan pisang. Pengelola menyebut bahan tersebut berasal dari kawasan Malang Raya, termasuk kentang dari Kota Batu dan ketela dari Kabupaten Malang.
Konsep tersebut menarik karena polo pendem tidak sekadar dipertahankan sebagai jajanan tradisional di pinggir jalan, tetapi juga diperkenalkan melalui tempat makan dengan konsep berbeda.
Polo Pendem dan Jejak Kuliner Tradisional Batu
Polo pendem bukan sekadar makanan sederhana. Bahan-bahan seperti ketela, kentang, pisang dan berbagai umbi merupakan bagian dari kekayaan hasil bumi kawasan Batu dan Malang Raya.
Keberadaannya juga berkaitan dengan tradisi masyarakat setempat. Dalam sejumlah kegiatan budaya di Kota Batu, polo pendem masih digunakan sebagai bagian dari sajian tradisional. Pemerintah Kota Batu, misalnya, mencatat polo pendem sebagai salah satu bagian dari sajian dalam tradisi Hulu Bekti di Desa Pesanggrahan.
Di tengah semakin banyaknya pilihan makanan modern, keberadaan polo pendem memperlihatkan bahwa kuliner sederhana berbasis hasil bumi masih mempunyai pasar tersendiri.
Apalagi jika disajikan hangat, bersih dan dengan harga terjangkau, makanan kukusan tersebut dapat menjadi pilihan sarapan maupun camilan bagi warga dan wisatawan yang ingin mencicipi sisi kuliner tradisional Kota Batu.