Dengan pendekatan tersebut, kegiatan bersih-bersih tidak berhenti pada pengumpulan sampah. Tujuannya juga mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah dari rumah, tempat usaha hingga kawasan perkotaan.
Indonesia Punya Rekam Jejak Besar
Indonesia juga memiliki rekam jejak panjang dalam gerakan World Cleanup Day.
Data yang dipublikasikan jaringan World Cleanup Day mencatat bahwa sepanjang 2018 hingga 2024, kegiatan WCD di Indonesia yang dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak telah melibatkan lebih dari 31 juta relawan dan mengumpulkan sekitar 57.684 ton sampah.
Angka tersebut menunjukkan besarnya skala partisipasi masyarakat Indonesia dalam gerakan kebersihan lingkungan.
Namun, tantangan pengelolaan sampah tidak selesai hanya dengan kegiatan pembersihan. Pemilahan dari sumber, pengurangan sampah, pengolahan sampah organik dan perubahan pola konsumsi tetap menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang.
Ada Kampanye Strive for Five
Selain tema observansi UN-Habitat, jaringan World Cleanup Day juga membawa kampanye “Strive for Five” pada 2026.
Kampanye tersebut mengajak mobilisasi sekitar 5 persen populasi sebagai titik penting untuk mendorong perubahan perilaku menjadi norma sosial yang lebih luas.
Dengan demikian, World Cleanup Day 2026 memiliki dua penekanan yang saling melengkapi. Observansi global yang difasilitasi UN-Habitat menempatkan limbah makanan, ekonomi sirkular dan kota berkelanjutan sebagai fokus utama. Sementara gerakan World Cleanup Day/Let's Do It World mengampanyekan partisipasi luas melalui “Strive for Five”.
Tidak Berhenti pada Bersih-Bersih
World Cleanup Day 2026 pada akhirnya membawa perhatian pada persoalan yang lebih luas daripada sampah yang terlihat di jalan, taman, sungai atau ruang publik.
Pengurangan sampah perlu dimulai sebelum sampah dihasilkan. Dalam konteks limbah makanan, perubahan dapat dilakukan melalui kebiasaan membeli secukupnya, menghabiskan makanan, memilah sampah organik dan mengolahnya agar kembali memiliki manfaat.
Momentum 20 September menjadi pengingat bahwa lingkungan yang bersih tidak hanya dibangun melalui aksi bersih-bersih, tetapi juga melalui perubahan cara masyarakat memperlakukan makanan dan sumber daya sehari-hari.