LOWOKWARU, DISWAYMALANG.ID—Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) secara masif kembali mempererat jalinan kolaborasi internasional bersama Kyoto University, Jepang. Langkah strategis ini diwujudkan melalui gelaran Kuliah Tamu bertajuk "Sustainable and Inclusive City: Integrating Infrastructure, Walkability, and Mobility Management" yang diselenggarakan di kampus FTUB. Agenda akademik ini menjadi momentum krusial untuk mengaktifkan serta menghidupkan kembali kerja sama komprehensif kedua perguruan tinggi bereputasi dunia tersebut.
Agenda bernilai strategis ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Bidang Umum Keuangan dan Sumber Daya Manusia FTUB Ir Ismu Rini Dwi Ari MT PhD. Dalam sambutan pembukaannya, Ismu Rini menegaskan bahwa rekam jejak kemitraan pendidikan antara FTUB dengan Engineering Faculty maupun Graduate School of Engineering Kyoto University sejatinya telah berakar kuat dan terjalin harmonis sejak tahun 2008.
Kolaborasi antar-negara ini sempat mencatatkan berbagai pilar keberhasilan, mulai dari pelaksanaan riset bersama (joint research), program pengiriman mahasiswa, Sakura Science Program, hingga skema pembelajaran terpadu. Kendati intensitas interaksi akademik sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, komitmen FTUB untuk merawat kemitraan berstandar global ini tetap menjadi prioritas utama.
Menghidupkan Kembali Jejaring Riset dan Pertukaran Mahasiswa
Kehadiran pakar tata kota Prof Kakuya Matsushima dari Disaster Prevention Research Institute (DPRI) Kyoto University sebagai pembicara utama menjadi pemantik penting dalam merajut kembali komunikasi akademik kedua institusi. Diskusi tersebut tidak sekadar membedah wawasan internasional mengenai perancangan kota inklusif dan ramah pejalan kaki, melainkan juga membuka pintu ruang kolaborasi yang jauh lebih luas di masa mendatang.
Ketua Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) FTUB Dr Eng I Nyoman Suluh Wijaya ST MT menyampaikan bahwa fondasi histori kerja sama UB dan Kyoto University sangat kokoh. Oleh karena itu, momentum guest lecture ini ditargetkan menjadi titik balik untuk menggalakkan kembali berbagai program unggulan yang sempat tertunda.
"Kami sangat berharap kegiatan ini akan terus berlanjut, akan ada research collaboration, akan ada teaching collaboration, kemudian ada mungkin juga exchange student baik dari UB ke Kyoto ataupun dari Kyoto ke UB," ungkap I Nyoman Suluh Wijaya di sela-sela kegiatan.
I Nyoman menambahkan bahwa penguatan kerja sama internasional ini tidak boleh berhenti pada tingkat institusi atau staf pengajar semata, melainkan harus memberikan dampak langsung bagi para mahasiswa. Interaksi intensif dengan sivitas akademika Kyoto University diyakini mampu memperkaya khazanah keilmuan, mengasah perspektif global, serta memperluas jejaring profesional mahasiswa UB sejak dini.
Reorientasi Kerja Sama Asia dan Komitmen terhadap SDGs
Upaya revitalisasi kemitraan dengan Kyoto University ini sekaligus menjadi bagian dari strategi Departemen PWK FTUB dalam menyeimbangkan peta internasionalisasi kampus. Dalam kurun waktu terakhir, arus mahasiswa asing yang menimba ilmu di PWK UB didominasi oleh mahasiswa dari kawasan Eropa. Kehadiran kembali jejaring kuat dengan institusi ternama di Jepang diharapkan dapat memperluas cakupan serta diversifikasi kemitraan akademik di kawasan Asia Timur.
Secara subtansial, materi yang dipaparkan oleh Prof Kakuya Matsushima menyoroti pentingnya integrasi infrastruktur perkotaan, konsep walkability (keterjangkauan pejalan kaki), serta manajemen mobilitas terpadu guna merespons tantangan pertumbuhan penduduk urban. Pengetahuan ini sangat relevan untuk diterapkan dalam perencanaan kota-kota modern di Indonesia agar lebih ramah lingkungan dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Langkah konkret FTUB dalam mempererat konektivitas dengan Kyoto University ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Inisiatif ini berkontribusi nyata pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan jejaring keilmuan global, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pengembangan konsep penataan ruang berbasis riset, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi lintas negara di bidang pendidikan tinggi.
Ke depan, FTUB dan Kyoto University bertekad menjaga keberlanjutan sinergi ini melalui penandatanganan kesepakatan teknis, pertukaran dosen tamu, kolaborasi publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi, serta skema pertukaran mahasiswa secara berkala.