MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian pada Selasa, 8 September 2026. Hingga pagi hari, Anak Krakatau erupsi tiga kali, sementara status gunung masih berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas tersebut kembali mengingatkan posisi Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. Wilayah ini dikenal memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik tinggi.
Presiden Prabowo Subianto juga menyinggung posisi Indonesia di kawasan Cincin Api saat memimpin rapat terbatas penanganan bencana pada Senin, 7 September 2026. Ia meminta kesiapsiagaan diperkuat dan anggaran mitigasi bencana ditambah secara signifikan.
Anak Krakatau Erupsi Tiga Kali
Aktivitas Anak Krakatau erupsi pada Selasa pagi tercatat mulai pukul 05.08 WIB. Erupsi pertama memiliki amplitudo maksimum 47 milimeter dengan durasi 15 detik.
Erupsi kedua terjadi pukul 05.34 WIB. Amplitudo maksimum mencapai 44 milimeter dengan durasi 10 detik.
Letusan ketiga tercatat pukul 07.49 WIB. Amplitudo maksimum mencapai 48 milimeter dengan durasi 19 detik.
Kolom erupsi dari ketiga kejadian tersebut tidak teramati secara visual dari pos pemantauan. Namun, aktivitas vulkanik tetap terekam melalui peralatan seismik.
BACA JUGA:Video Lawas Cak Nun soal Lima Gunung Meletus Viral Lagi, Apa Maksudnya?
Aktivitas ini muncul setelah episode erupsi menerus Anak Krakatau sempat berhenti pada 6 September 2026. Potensi erupsi susulan masih perlu diwaspadai sehingga status gunung tetap Level III atau Siaga.
Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Apa Itu Ring of Fire?
Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik merupakan kawasan berbentuk busur panjang yang mengelilingi Samudra Pasifik. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas gempa bumi dan gunung api paling tinggi di dunia.
Cincin Api Pasifik bukan nama sebuah lempeng tektonik. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kawasan luas yang terbentuk akibat interaksi berbagai lempeng tektonik di sekitar Samudra Pasifik.
Salah satu proses penting adalah subduksi. Dalam proses ini, satu lempeng bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya. Interaksi tersebut dapat menghasilkan gempa bumi dan berperan dalam pembentukan maupun aktivitas gunung api.
BACA JUGA:Gunung Semeru Level III Siaga, 583 Kali Erupsi Terekam dalam 6 Hari
Mengapa Indonesia Rawan Bencana?
Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar. Di antaranya Lempeng Indo-Australia, sistem Lempeng Eurasia atau Sunda, Lempeng Pasifik serta berbagai lempeng mikro di wilayah timur Indonesia.