MALANG, DISWAYMALANG.ID--Pertanyaan tentang gunung api paling dahsyat di Indonesia memiliki jawaban berbeda bergantung pada ukuran yang digunakan. Jika yang dibandingkan adalah skala erupsi sepanjang sejarah geologi, jawabannya mengarah kepada Gunung Toba di Sumatera Utara.
Toba bukan sekadar gunung api biasa. Sistem vulkanik Toba dikenal sebagai supervolcano dan pernah mengalami supererupsi sekitar 74.000 tahun lalu. Letusan tersebut menghasilkan kaldera raksasa yang kemudian menjadi kawasan Danau Toba.
Dalam skala Volcanic Explosivity Index (VEI), erupsi Toba diperkirakan mencapai VEI 8, level tertinggi dalam skala tersebut. Volume material hasil erupsinya diperkirakan mencapai ribuan kilometer kubik.
Besarnya erupsi inilah yang membuat Toba masuk dalam jajaran supererupsi terbesar dalam sejarah Bumi.
Tambora, Letusan Terbesar dalam Sejarah Modern
Jika pembahasannya dibatasi pada letusan gunung api dalam sejarah manusia modern yang terdokumentasi, nama yang paling menonjol adalah Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Tambora meletus dahsyat pada April 1815. Erupsinya mencapai VEI 7, satu tingkat di bawah VEI 8.
Letusan tersebut mengeluarkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar dan memengaruhi atmosfer Bumi. Dampaknya bahkan terasa hingga berbagai wilayah di luar Indonesia.
Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai Year Without a Summer atau Tahun Tanpa Musim Panas akibat pengaruh material vulkanik dan sulfur di atmosfer yang mengubah kondisi iklim.
Letusan Tambora juga mengubah bentuk gunung secara drastis. Puncaknya yang sebelumnya diperkirakan mencapai lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut runtuh dan kini menyisakan kaldera dengan puncak sekitar 2.851 meter.
Lalu, Bagaimana dengan Krakatau?
Nama Krakatau memang jauh lebih populer ketika membahas letusan gunung api paling dahsyat di Indonesia.
Namun, jika ukurannya adalah volume dan skala eksplosivitas, Krakatau 1883 masih berada di bawah Toba dan Tambora.
Letusan Krakatau pada 1883 menjadi sangat terkenal karena dampaknya yang luar biasa terhadap wilayah pesisir Selat Sunda. Salah satu dampak paling mematikan adalah tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.
Lebih dari 36.000 orang meninggal dalam bencana yang berkaitan dengan letusan dan tsunami tersebut.
Krakatau juga penting dalam sejarah karena letusannya membentuk kaldera besar di Selat Sunda. Di dalam kompleks kaldera inilah kemudian muncul Anak Krakatau pada akhir dekade 1920-an.
Tiga Letusan dengan Karakter Berbeda
Dengan demikian, istilah “paling dahsyat” tidak bisa hanya dilihat dari satu ukuran.
Toba menjadi yang paling ekstrem jika ukurannya adalah skala supererupsi sepanjang sejarah geologi. Erupsinya mencapai kategori VEI 8.