Pujirianto – SMK Negeri 1 Bendo Magetan
Rizki Alviyansyah – SMK Negeri 1 Singosari.
Dengan demikian, Malang Raya menyumbang lima dari 14 peserta Jawa Timur, yakni Shodiq, Suharianto, Hermawan, Habibah Eky Gumilar, dan Rizki Alviyansyah.
Sementara itu, empat guru yang berasal dari Kabupaten Malang sebelumnya juga telah dilepas dalam kegiatan di Aula Bakorwil Malang. Mereka adalah Suharianto, Hermawan, Rizki Alviyansyah, dan Habibah Eky Gumilar.
Belajar Teknologi Manufaktur hingga Smart Factory
Program ini tidak sekadar berupa kunjungan pendidikan. Para guru mendapatkan pengalaman langsung mengenai praktik industri, perkembangan teknologi, sistem pendidikan vokasi, serta budaya kerja yang diterapkan di Jerman.
Kemendikdasmen menetapkan tiga bidang utama dalam program tersebut, yaitu teknologi manufaktur dan rekayasa, teknologi konstruksi dan bangunan, serta energi dan pertambangan.
Penempatan peserta disesuaikan dengan bidang keahlian masing-masing. Daftar resmi menunjukkan sebagian besar peserta berada pada bidang teknologi manufaktur dan rekayasa. Sebagian lainnya mendalami teknologi konstruksi dan bangunan serta energi dan pertambangan.
Khusus peserta dari Malang Raya, fokusnya antara lain berkaitan dengan manufaktur, rekayasa, otomasi, mekatronika hingga konsep smart factory.
Habibah Eky Gumilar, guru Teknik Mekatronika SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, misalnya, ditempatkan di Festo Didactic SE. Ia dijadwalkan mengikuti program selama tiga bulan, 17 Agustus hingga 17 November 2026, dengan fokus teknologi manufaktur dan rekayasa.
Menurut keterangan sekolah, Festo memiliki fasilitas pelatihan vokasi sehingga Habibah tidak hanya akan melihat teknologi industri, tetapi juga mempelajari bagaimana pendidikan vokasi dikembangkan dan dikaitkan dengan teknologi otomasi.
Dibagi di TU Dresden dan Festo
Sebanyak 34 guru mengikuti program di TU Dresden, sedangkan 16 guru ditempatkan di Festo Didactic SE. Pembagian tersebut menjadi bagian dari strategi program untuk memberikan pengalaman akademik sekaligus industri kepada guru SMK.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengatakan para peserta telah melalui proses seleksi yang ketat. Karena itu, mereka diharapkan benar-benar memanfaatkan kesempatan selama berada di Jerman.
Pengalaman tersebut nantinya tidak berhenti pada peserta. Guru diminta membawa pengetahuan baru ke sekolah masing-masing dan melakukan pengimbasan kepada guru lainnya.
Tujuannya adalah agar pengalaman internasional tersebut memberikan efek berantai terhadap kualitas pembelajaran SMK di Indonesia.
Bukan Sekadar Belajar, Guru Diminta Bangun Jejaring
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan program tersebut juga diharapkan membuka jejaring baru antara SMK Indonesia dan industri Jerman.
Selama tiga bulan di Jerman, para guru memiliki kesempatan mengenal lingkungan industri sekaligus membangun koneksi dengan mitra di negara tersebut. Jejaring itu diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi siswa SMK Indonesia, termasuk kesempatan bekerja di Jerman.