KETIKA mendengar kata drone, sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin langsung membayangkan sebuah pesawat kecil yang digunakan untuk fotografi udara, pembuatan konten media sosial, atau sekadar hobi menerbangkan pesawat tanpa awak.
Persepsi tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, di berbagai negara maju, drone telah berkembang jauh melampaui fungsi tersebut. Teknologi ini kini menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung pertanian dan peternakan modern melalui konsep precision agriculture dan precision livestock farming.
Sayangnya, pemanfaatan drone di sektor peternakan Indonesia masih sangat terbatas. Bahkan belum ada sama sekali. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi ternak unggas terbesar di Asia Tenggara. Dan, memiliki kebutuhan yang semakin tinggi terhadap sistem produksi pangan yang efisien, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.
Transformasi digital yang mulai merambah berbagai sektor seharusnya juga menjadi momentum bagi dunia peternakan untuk beradaptasi. Namun, hingga saat ini sebagian besar aktivitas pemantauan kandang masih dilakukan secara manual. Petugas harus berjalan dari satu sisi kandang ke sisi lainnya untuk memeriksa kondisi ayam, distribusi populasi, konsumsi pakan. Hingga mendeteksi adanya ayam yang sakit atau mati.
Transformasi digital yang mulai merambah berbagai sektor seharusnya juga menjadi momentum bagi dunia peternakan untuk beradaptasi. -dok. penulis--
Cara kerja seperti itu tentu membutuhkan waktu, tenaga, serta tidak lepas dari potensi kesalahan pengamatan. Di sisi lain, skala peternakan modern semakin besar. Tidak sedikit kandang ayam pedaging saat ini menampung puluhan ribu ekor ayam dalam satu bangunan. Dalam kondisi seperti ini, pemantauan manual menjadi semakin sulit dilakukan secara cepat dan menyeluruh.
Inilah ruang yang sebenarnya dapat diisi oleh teknologi drone.
Drone modern tidak lagi sekadar membawa kamera. Dengan dukungan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), kamera pintar, serta validasi pendekatan machine learning dan deep learning, drone mampu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia. Drone dapat menghitung jumlah populasi ayam secara otomatis, menganalisis kepadatan kandang, mengidentifikasi distribusi ayam, hingga mendeteksi individu yang menunjukkan perilaku tidak normal.
Seluruh proses tersebut dapat dilakukan dalam hitungan menit tanpa harus mengganggu aktivitas ternak.
Lebih jauh lagi, teknologi drone dapat diintegrasikan dengan Internet of Things (IoT). Sehingga data yang diperoleh dari udara dapat dikombinasikan dengan informasi suhu, kelembapan. Integrasi berbagai sumber data tersebut akan menghasilkan sistem pengambilan keputusan yang jauh lebih cepat dan akurat dibandingkan metode konvensional.
Negara-negara maju telah lebih dahulu memanfaatkan potensi ini. Di Belanda, Jepang, Jerman, Tiongkok, dan Amerika Serikat, drone telah digunakan untuk membantu pemantauan ternak dan inspeksi lahan. Juga, pengawasan kesehatan hewan hingga pengumpulan data produksi secara otomatis. Teknologi tersebut menjadi bagian dari transformasi menuju peternakan presisi yang mengandalkan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Indonesia sesungguhnya memiliki peluang yang tidak kalah besar. Sebagai negara agraris sekaligus produsen unggas yang terus berkembang, kebutuhan terhadap teknologi pemantauan otomatis akan semakin meningkat. Hal itu seiring bertambahnya populasi ternak dan meningkatnya tuntutan efisiensi produksi.
Sayangnya, tingkat adopsi drone pada sektor peternakan masih tergolong rendah. Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa drone merupakan teknologi mahal yang hanya cocok digunakan perusahaan besar. Padahal, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan lahirnya drone berukuran kecil dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan beberapa tahun lalu.
Danung Nur Adli SPt MPt MSc, penulis. -dok pribadi--
Selain faktor biaya, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan tersendiri. Masih sedikit peternak maupun tenaga teknis yang memiliki kemampuan mengoperasikan drone atau memahami bagaimana memanfaatkan data yang dihasilkan.
Di sisi lain, penelitian mengenai drone khusus peternakan di Indonesia juga masih relatif sedikit. Sehingga pilihan teknologi yang tersedia belum sebanyak di negara maju. Padahal, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan tersebut.
Kampus tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan. Kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan peternak menjadi kunci untuk mempercepat hilirisasi teknologi sehingga hasil penelitian tidak berhenti sebagai prototipe di laboratorium.
Pengembangan drone khusus peternakan juga perlu mempertimbangkan karakteristik kandang di Indonesia. Drone yang dirancang untuk beroperasi di dalam kandang tertutup (closed house) harus memiliki tingkat kebisingan rendah. Ukuran yang kompak. Sistem navigasi yang stabil. Serta, mampu melakukan analisis data secara langsung tanpa bergantung pada koneksi internet.
Dengan demikian, teknologi tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan peternak di lapangan. Lebih dari sekadar alat pemantauan, drone juga dapat menjadi bagian dari sistem peringatan dini (early warning system). Ketika terjadi perubahan pola distribusi ayam, peningkatan kepadatan di suatu area, atau muncul indikasi gangguan kesehatan, sistem dapat memberikan notifikasi kepada peternak. Sehingga tindakan korektif dapat segera dilakukan sebelum kerugian menjadi lebih besar.
Drone berbasis AI dan IoT berpotensi mengubah peternakan Indonesia, dari menghitung ayam hingga mendeteksi gangguan kesehatan secara lebih cepat. -dok. penulis----
Kemampuan seperti ini sangat penting. Mengingat keberhasilan usaha peternakan sering ditentukan oleh kecepatan dalam mendeteksi masalah. Semakin cepat suatu gangguan diketahui, semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak ekonomi yang ditimbulkan.
Pemerintah juga memiliki peran penting dalam mendorong adopsi teknologi drone melalui penyusunan regulasi yang mendukung inovasi. Pemberian insentif penelitian. Penyelenggaraan pelatihan operator drone. Hingga penyediaan skema pembiayaan bagi peternak yang ingin mengadopsi teknologi baru.
Langkah tersebut perlu diiringi dengan penguatan ekosistem industri drone nasional. Agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk impor. Tetapi juga mampu menghasilkan teknologi yang dikembangkan oleh anak bangsa.
Ke depan, pemanfaatan drone tidak hanya akan terbatas pada peternakan ayam. Teknologi serupa berpotensi diterapkan pada peternakan sapi, kambing, domba, maupun sektor perikanan.
Drone dapat membantu menghitung populasi, memantau kondisi lingkungan, mendeteksi penyakit. Hingga, mendukung kegiatan penelitian yang membutuhkan pengamatan cepat dan akurat. Sehingga, pengambilan keputusan untuk memberikan nutrisi yang presisi akan dilakukan semenjak dini.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi apakah dunia peternakan membutuhkan drone. Tetapi, seberapa cepat Indonesia mampu mengadopsi dan mengembangkan teknologi tersebut. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan, keterbatasan tenaga kerja, serta tuntutan efisiensi produksi, pemanfaatan drone bukan lagi sebuah kemewahan, namun sebuah kebutuhan.
Drone berbasis AI dan IoT berpotensi mengubah peternakan Indonesia, dari menghitung ayam hingga mendeteksi gangguan kesehatan secara lebih cepat. -dok. penulis--
Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi ini. Perguruan tinggi telah mulai menghasilkan berbagai inovasi. Industri mulai menunjukkan ketertarikan. Dan, kebutuhan di lapangan semakin nyata. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk mempercepat adopsi serta membangun kolaborasi lintas-sektor.
Drone bukan lagi sekadar alat untuk menghasilkan foto udara yang menarik. Di tangan para peneliti, insinyur, dan peternak, drone dapat menjadi mata di langit yang membantu menjaga kesehatan ternak. Meningkatkan efisiensi produksi. Serta, memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sudah saatnya pesawat tanpa awak tidak hanya mengudara di langit Indonesia. Tetapi, juga menjadi bagian dari masa depan peternakan Indonesia yang lebih cerdas, modern, dan berdaya saing global.
* Penulis adalah Dosen di Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan, Program Studi Industri Peternakan Cerdas, Universitas Brawijaya, Malang; Saat ini sedang menempuh PhD studi di Institute of Animal Science, Unversitas of Hohenheim, Jerman.