81 tahun RI Disway

Rais Aam PBNU Sebut Ekonomi Lemah dan Kebodohan Jadi Akar Kemunduran Umat

Rais Aam PBNU Sebut Ekonomi Lemah dan Kebodohan Jadi Akar Kemunduran Umat

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar berpidato pada pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Tambak Beras Jombang, Kamis (27/8/2026).-nu.or.id--

JOMBANG, DISWAYMALANG.ID-- Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyebut kelemahan ekonomi dan kebodohan sebagai dua persoalan besar yang dapat menghambat kekuatan umat dalam menjalankan amar ma'ruf nahi munkar.

Hal itu disampaikan KH Miftachul Akhyar saat menyampaikan Khutbah Iftitah pada Pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis 27 Agustus 2026.

Menurutnya, persoalan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan umat dalam menjalankan peran keagamaan dan sosial.

“Sesungguhnya penyebab utama yang menghambat kekuatan umat untuk menjalankan amar ma'ruf nahi munkar serta menegakkan ajaran Islam adalah kemiskinan dan kelemahan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang ekonomi,” ujar KH Miftachul Akhyar.

Kebodohan Jadi Ancaman Serius

Selain persoalan ekonomi, KH Miftachul Akhyar menyoroti bahaya kebodohan atau al-jahlu yang dibiarkan berkembang di tengah masyarakat.

Ia menyebut kebodohan sebagai salah satu faktor terbesar kemunduran umat yang telah diperingatkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

“Di antara faktor terbesar kemunduran yang telah diperingatkan Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah merebaknya kebodohan (al-jahlu),” tegasnya.

Menurut KH Miftachul Akhyar, dampaknya tidak berhenti pada rendahnya pengetahuan.

Masyarakat yang kehilangan ilmu dapat mengalami kesulitan membedakan perkara yang bernilai dengan sesuatu yang justru merusak.

Bahkan, argumen yang keliru dapat diterima sebagai sebuah kebenaran.

“Sebagian orang tidak lagi mampu membedakan mana perkara yang berharga dan mana yang merusak, bahkan menerima argumen palsu (sufshathah) sebagai sebuah kenyataan,” lanjutnya.

Peringatan tersebut menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus informasi. Masyarakat menerima berbagai informasi dalam waktu singkat. Tanpa kemampuan memilah dan memahami ilmu, informasi yang salah dapat dengan mudah dianggap benar.

Jangan Serahkan Urusan Agama kepada Orang yang Tidak Kompeten

Dalam Khutbah Iftitah tersebut, KH Miftachul Akhyar juga menyoroti persoalan kepemimpinan agama.

Ia mengimbau agar urusan keagamaan diserahkan kepada orang yang memiliki kompetensi. Sebaliknya, penunjukan orang yang tidak memiliki kapasitas keilmuan dapat menimbulkan persoalan serius.

Menurutnya, masyarakat dapat kehilangan kemampuan kritis untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan apabila urusan agama diserahkan kepada pihak yang tidak tepat.

Sumber:

Berita Terkait