Kisah Pacho bersama Arema memang tidak berlangsung panjang. Setelah tampil fenomenal pada Liga Indonesia 1999/2000, kariernya di Indonesia terhenti setelah mendapatkan sanksi berat dari PSSI. Pacho kemudian melanjutkan perjalanan kariernya di luar Indonesia.
Sementara Araya kemudian meninggalkan Arema untuk memperkuat Persijatim Jakarta Timur pada 2001. Ia kembali memperkuat Arema pada 2003 sebelum kemudian bermain untuk Persema Malang.
Meski perjalanan keduanya berbeda, nama Pacho Rubio dan Rodrigo Araya tetap melekat dalam memori Aremania.
Duo Chile dalam Sejarah Singo Edan
Pacho dan Araya menjadi bagian dari generasi penting Arema pada era Liga Indonesia 1999/2000. Kehadiran mereka menunjukkan bagaimana pemain asing tidak hanya memberikan tambahan kualitas teknis, tetapi juga dapat membangun ikatan emosional dengan suporter.
Pacho dikenang karena keberanian, temperamen, dan naluri golnya. Araya dikenang karena visi permainan, umpan terukur, dan kontribusinya dalam membangun serangan.
Bertahun-tahun setelah keduanya meninggalkan Malang, memori tentang duo Chile tersebut masih hidup di antara Aremania. Bagi publik sepak bola Malang, Pacho Rubio dan Rodrigo Araya adalah bagian dari cerita ketika Singo Edan memiliki dua pemain asing yang tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga berhasil meninggalkan jejak dalam sejarah dan ingatan suporternya.