Catatan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal Arema sudah mampu bersaing dengan klub-klub mapan di kompetisi Galatama.
Di lini depan, Mecky Tata dan Mahdi Haris menjadi dua pencetak gol terbanyak Arema dengan masing-masing enam gol. Sementara di lini belakang, Donny Lattuperisa dan Iwan Darmawan menjadi bagian dari struktur skuad yang mengawali perjalanan klub.
BACA JUGA:Arema FC dan Aremania: Mengapa Singo Edan Lebih dari Sekadar Klub Sepak Bola? (3-Habis)
Dari Skuad Perdana Menuju Gelar Juara
Perjalanan Arema kemudian berkembang pesat. Hanya beberapa tahun setelah berdiri, Singo Edan mulai menunjukkan kekuatan di kompetisi nasional.
Arema akhirnya meraih gelar Galatama pada musim 1992/1993. Skuad juara tersebut sudah mengalami perubahan besar dibanding tim perdana, termasuk di posisi penjaga gawang.
Nanang Hidayat tercatat sebagai kiper utama dalam skuad juara tersebut, dengan Yanuar Hermansyah dan Muhammad Andi Sukrian sebagai penjaga gawang lainnya.
Perubahan generasi tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi kompetitif Arema terus berkembang dari satu periode ke periode berikutnya.
BACA JUGA:Dari M Basri hingga Marcos Santos, 13 Pelatih Arema FC di Era Liga 1 dan Para Legenda Singo Edan (2)
Tradisi Kiper Berlanjut hingga Era Modern
Setelah generasi awal Donny Lattuperisa dan Iwan Darmawan, Arema terus melahirkan maupun mendatangkan penjaga gawang yang memiliki peran penting.
Nama seperti Dwi Sasmianto, Yanuar Hermansyah, Kurnia Meiga, hingga sejumlah kiper generasi berikutnya kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang klub.
Kurnia Meiga bahkan menjadi salah satu penjaga gawang paling dikenal dalam sejarah modern Arema dan Timnas Indonesia.
Dengan demikian, sejarah penjaga gawang Arema tidak tepat jika hanya dikaitkan dengan satu nama. Jejak tersebut merupakan rangkaian panjang yang dimulai sejak skuad perdana pada Galatama 1987/1988, kemudian berkembang melalui berbagai generasi hingga era sepak bola modern.
Bagi Arek Malang dan Aremania, kisah Donny Lattuperisa dan Iwan Darmawan menjadi bagian penting dari fase awal perjalanan Singo Edan. Mereka bukan sekadar nama dalam daftar pemain lama, tetapi bagian dari generasi yang ikut membuka lembar pertama sejarah Arema di kompetisi nasional.