BUMIAJI, DISWAYMALANG.ID –Pemerintah Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menggelar sosialisasi kesiapsiagaan bencana bertajuk "Sosialisasi Tangguh Bencana Kecamatan Bumiaji". Acara ini diselenggarakan sebagai langkah konkret dalam memperkuat kapasitas wilayah sekaligus mempercepat akselerasi ketangguhan bencana dari level terkecil hingga tingkat keluarga.
Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kecamatan Bumiaji menggandeng berbagai pihak kunci, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Bulukerto yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Pak Suntari. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi utama dalam menginisiasi gerakan kesiapsiagaan yang lebih masif.
BACA JUGA: Bocil Siap Siaga! BPBD Kota Batu Kenalkan Dunia Kebencanaan kepada Siswa KB Putra Putri Pertiwi 02
Program Kecamatan Tangguh Bencana: Mandat Kemendagri
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Gatot Noegroho, hadir langsung sebagai pemateri utama guna memaparkan esensi dari program Kecamatan Tangguh Bencana.
"Program Kecamatan Tangguh Bencana ini sebenarnya merupakan salah satu program yang diamanatkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Tujuannya adalah menginisiasi sekaligus mendorong agar setiap kecamatan memiliki kapasitas dan nilai kesiapsiagaan yang tinggi dalam menghadapi setiap potensi bencana," ujar Gatot Noegroho, Selasa (14/7) saat memberikan pemaparan materi.
BACA JUGA: BPBD Kota Batu Salurkan Bantuan Darurat Pasca Banjir Luapan di Dua Lokasi Bumiaji
Lebih lanjut Gatot menjelaskan bahwa kecamatan memegang peranan yang sangat krusial dalam rantai birokrasi penanggulangan bencana. Kecamatan berfungsi sebagai penghubung utama yang menjembatani kebijakan dari Pemerintah Kota agar dapat ditransmisikan secara cepat dan tepat ke Pemerintah Desa maupun Kelurahan.
"Apabila fungsi kecamatan sebagai penghubung ini berjalan dengan optimal, maka proses kolaborasi antara pemerintah kota dengan desa akan jauh lebih masif dan terarah," tambah Gatot.
Dalam skema Kecamatan Tangguh Bencana, terdapat beberapa indikator yang wajib dipenuhi. Indikator tersebut mencakup standar pelayanan minimal (SPM) kebencanaan untuk masyarakat, pembentukan struktur lembaga tangguh bencana yang kokoh, hingga penyusunan program-program kerja terpadu. Seluruh upaya ini bermuara pada satu tujuan utama, yaitu mewujudkan pilar perlindungan terkecil bencana: Keluarga Tangguh Bencana.
BACA JUGA: BPBD Kota Batu Tanamkan Kesadaran Mitigasi Bencana kepada Anak Usia Dini
Gatot juga berharap langkah awal yang diinisiasi oleh Kecamatan Bumiaji ini dapat segera menular ke wilayah lain di Kota Batu.
"Karena ini amanat nasional, kami sangat berharap kecamatan lain seperti Kecamatan Batu dan Kecamatan Junrejo bisa segera menyusul untuk menginisiasi pembentukan Kecamatan Tangguh Bencana di wilayah mereka masing-masing," harapnya.
BACA JUGA: BPBD Kota Batu Kirim Tim Ikut Pelatihan Manajemen Penanggulangan Bencana Letusan Gunung
Tindak Lanjut Nyata: Mitigasi Susur Sungai
Sosialisasi ini dipastikan tidak hanya berhenti sebagai wacana di dalam ruangan. Sebagai tindak lanjut nyata (tindak lanjut), BPBD Kota Batu bersama pihak kecamatan dan FPRB telah merencanakan serangkaian aksi mitigasi fisik di lapangan, salah satunya adalah program Mitigasi Susur Sungai.
Gatot Noegroho menegaskan bahwa program susur sungai yang sebelumnya telah dirintis oleh BPBD akan menyerahkan estafet pelaksanaannya kepada pihak kecamatan agar cakupannya lebih luas dan berkelanjutan.
"Kami tidak hanya membagikan teori. Dalam sosialisasi ini kami juga melaporkan hasil pengamatan, identifikasi risiko, serta evaluasi program susur sungai yang sudah berjalan. Rekomendasi teknis berikutnya adalah melakukan aksi bersih-bersih sungai guna mencegah potensi sumbatan dan luapan air," tuturnya Gatot.
Melalui sinergi yang erat antara BPBD, FPRB, pemerintah kecamatan, hingga tingkat desa, diharapkan masyarakat Bumiaji tidak hanya siap menghadapi ancaman bencana, tetapi juga mampu meminimalisir risiko kerusakan secara mandiri dan tangguh.
Sementara itu Camat Bumiaji Thomas Maydo dalam Segalanya mengatakan pentingnya belajar untuk meningkatkan kemampuan dalam hal kebencanaan karena FPRB merupakan forum untuk mengurangi risiko bencana.
“Daerah Bumiaji dengan geografi pegunungan mempunyai risiko kebencanaan jika musim hujan risiko banjir, jika kemarau kebakaran hutan. Bencana lewat tanpa memberi pemberitahuan, maka kita harus mengantisipasinya. Semoga dengan forum ini mendapatkan bekal ilmu yang bermanfaat bagi warga kecamatan Bumiaji,” tegas Thomas Maydo.