Menolak Seragam, Menengok Tren 'Cyberdeck' yang Bikin Gen Z Keranjingan Komputer Rakitan

Senin 06-07-2026,18:00 WIB
Reporter : Agung Santoso
Editor : Mohammad Khakim

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Pada era ketika pabrikan teknologi berlomba-lomba meluncurkan laptop ultra-tipis dengan desain minimalis yang seragam, sebagian anak muda justru memilih jalan yang sama sekali berbeda. Belakangan ini, jagat media sosial seperti TikTok dan Reddit diramaikan oleh tren merakit cyberdeck—komputer portabel berbasis DIY (Do It Yourself) yang mengusung estetika fiksi ilmiah era 80-an.

Bagi generasi yang tumbuh di tengah kepungan algoritma dan ketergantungan digital, perangkat ini bukan sekadar alat komputasi biasa, namun sebuah pernyataan sikap.

BACA JUGA:Bingung Pilih HP Rp2 Jutaan? Ini 7 Rekomendasi dengan Memori Lega dan Performa Kencang di 2026

Dari Imajinasi Distopia ke Meja Kerja

Dirangkum Disway Malang dari beberapa sumber, istilah cyberdeck sebenarnya bukan barang baru. Kata ini kali pertama lahir dari imajinasi penulis William Gibson dalam novel fiksi ilmiah distopia legendarisnya, Neuromancer, pada tahun 1984. Kala itu, Gibson membayangkan sebuah konsol portabel yang digunakan para peretas untuk menembus jaringan virtual.

Kini, imajinasi tersebut mewujud secara nyata. Melalui tangan-tangan kreatif Gen Z, cyberdeck dirakit menggunakan komputer papan tunggal seperti Raspberry Pi yang dipadukan dengan komponen-komponen terpisah. Mulai layar LCD berukuran mini, keyboard mekanis (mechanical keyboard), hingga baterai modular.

BACA JUGA:7 HP Rp2 Jutaan Paling Worth It 2026, RAM Besar dan Baterai Awet Jadi Andalan untuk Harian

Alih-alih dibungkus casing aluminium yang mulus, komputer ini sengaja dipasang di dalam wadah yang tak biasa. Seperti kotak perkakas bekas, koper tua, hingga sasis hasil cetakan printer 3D dengan kabel-kabel yang sengaja dibiarkan terekspos. Hasilnya? Sebuah perangkat dengan visual cyberpunk yang mentah, industrial, sekaligus sangat personal.

Mengapa Gen Z Kepincut?

Pengamat tren digital menilai fenomena ini sebagai bentuk jenuhnya pasar terhadap standarisasi industri teknologi modern. Ada beberapa faktor utama yang membuat Gen Z gandrung akan tren ini:

  • Pemberontakan terhadap Desain Monoton: Di mata Gen Z yang menghargai orisinalitas, desain smartphone dan laptop saat ini dinilai terlalu seragam dan membosankan. Cyberdeck menawarkan kebebasan mutlak—setiap unit yang dirakit dipastikan menjadi satu-satunya yang ada di dunia.
  • Semangat Right to Repair: Banyak raksasa teknologi sengaja merancang perangkat yang sulit dibongkar atau diperbaiki sendiri demi memaksa konsumen membeli unit baru. Cyberdeck mengusung filosofi sebaliknya: sangat modular. Pengguna memiliki kendali penuh untuk menukar, meningkatkan, atau memperbaiki setiap jengkal komponen perangkat mereka.
  • Gerakan 'Sengaja Terputus' (Digital Disconnect): Di tengah isu kesehatan mental akibat paparan media sosial yang berlebihan, cyberdeck sering kali difungsikan sebagai perangkat "antidote". Banyak perakit sengaja membatasi konektivitas internet pada perangkat ini, mengubahnya menjadi mesin tik digital (writerdeck) tanpa gangguan notifikasi, atau sekadar wadah untuk memutar musik lokal dan game retro secara offline. 
  • BACA JUGA:7 HP Gaming Murah 2026 Harga Rp2 Jutaan, RAM 8 GB, Memori 256 GB, Layar Hingga 144 Hz

    Tren cyberdeck merefleksikan pergeseran budaya yang menarik di kalangan anak muda. Di tengah dunia yang bergerak serba digital dan otomatis, ada kepuasan tersendiri yang ditemukan ketika kembali menyentuh barang fisik, menyolder komponen, dan membangun teknologi dengan narasi mereka sendiri.

    Kategori :