1 tahun disway

FAST UB Luncurkan PIYIKAI, Aplikasi AI yang Bisa Deteksi Jenis Kelamin DOC secara Offline

FAST UB Luncurkan PIYIKAI, Aplikasi AI yang Bisa Deteksi Jenis Kelamin DOC secara Offline

--Prasetyaub

LOWOKWARU, DISWAYMALANG.ID – Tim dosen Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk industri perunggasan melalui aplikasi PIYIKAI. Aplikasi berbasis Android ini mampu mendeteksi jenis kelamin Day Old Chick (DOC) secara cepat, akurat, portabel, dan dapat digunakan tanpa koneksi internet.

Inovasi tersebut dikembangkan untuk membantu meningkatkan efisiensi proses identifikasi DOC pada industri pembibitan dan penetasan unggas yang selama ini masih banyak mengandalkan tenaga ahli atau sexer dengan kemampuan khusus.

PIYIKAI dikembangkan oleh tim peneliti lintas disiplin yang diketuai Prof Dr Ir M Halim Natsir SPt MP ASEAN Eng dari Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya. Tim tersebut juga beranggotakan Dr Yuli Frita Nuningtyas SPt MP MSc dan Dr Feri Eko Hermanto SSi MSi dari FAST UB, Adharul Muttaqin ST MT dari Fakultas Teknik UB, serta Mochamad Tono SKom dari Fakultas Ilmu Komputer UB.

BACA JUGA:Menjemput Revolusi Peternakan Berbasis AI: Belajar dari AFLAVISION dan PIYIKAI

Kolaborasi tersebut memadukan kepakaran di bidang peternakan unggas, kecerdasan buatan, pengolahan citra digital, rekayasa perangkat lunak, hingga pengembangan aplikasi bergerak. Sinergi lintas disiplin ini memungkinkan lahirnya teknologi yang tidak hanya unggul secara komputasi, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan biologis dan praktik industri.


PIYIKAI, aplikasi berbasis Android yang dikembangkan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan UB. –FaST UB- --

Dalam pengembangannya, Dr Yuli Frita Nuningtyas selaku Koordinator Program Studi Industri Peternakan Cerdas FAST UB memiliki peran penting dalam mengintegrasikan ilmu peternakan dengan teknologi AI. Ia memastikan sistem yang dikembangkan tetap mengacu pada prinsip biologis metode feather sexing sehingga hasil identifikasi memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Metode feather sexing dilakukan dengan mengamati perbedaan panjang bulu primer dan bulu penutup pada sayap DOC. Pada DOC jantan, kedua jenis bulu tersebut umumnya memiliki panjang yang relatif sama. Sementara pada DOC betina, bulu primer tampak lebih panjang dibandingkan bulu penutup. Karakteristik inilah yang kemudian dipelajari oleh sistem AI sebagai dasar klasifikasi.

BACA JUGA:Amankan Aset Riset, FAST UB Kantongi Sertifikat Merek Resmi 'UBfeed' untuk Proteksi Pasar

Memanfaatkan AI Ringan Berbasis Android

PIYIKAI menggunakan model YOLOv11 yang dimodifikasi dengan teknologi Ghost Convolution (GhostConv) dan Efficient Channel Attention (ECA). Kombinasi tersebut menghasilkan model AI yang lebih ringan namun tetap memiliki tingkat akurasi tinggi dalam mengenali karakteristik visual bulu sayap DOC.

GhostConv berfungsi mengurangi beban komputasi, sedangkan ECA meningkatkan kemampuan model dalam mengenali fitur-fitur visual yang paling relevan. Selanjutnya model dikonversi ke format TensorFlow Lite sehingga seluruh proses analisis dapat dilakukan langsung di perangkat Android tanpa membutuhkan server maupun akses internet.

Pengguna hanya perlu memotret bagian sayap DOC atau memilih foto dari galeri. Sistem kemudian akan menganalisis gambar dan menampilkan hasil klasifikasi berupa DOC jantan atau betina beserta tingkat keyakinan (confidence score).

PIYIKAI juga dilengkapi fitur penyimpanan riwayat pemeriksaan sehingga hasil identifikasi dapat terdokumentasi secara sistematis untuk kebutuhan evaluasi maupun pencatatan.

BACA JUGA:Dobrak Batas Tradisional, FAST UB Hadirkan Era 'Smart Farming' lewat Kecerdasan Buatan dan Drone

Akurasi Tinggi, Proses Cepat

Dalam proses pelatihannya, tim menggunakan sekitar 6.000 citra DOC yang terbagi dalam dua kategori, yakni DOC jantan dan DOC betina. Model tersebut berhasil mencatat nilai [email protected] sebesar 0,948, menunjukkan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Setelah dikonversi ke TensorFlow Lite, ukuran model hanya sekitar 2,1 MB dengan waktu inferensi kurang dari 40 milidetik, sehingga mampu berjalan cepat pada telepon pintar dengan spesifikasi menengah.

Karakteristik tersebut menjadikan PIYIKAI sebagai aplikasi yang ringan, portabel, noninvasif, sekaligus praktis digunakan oleh petugas hatchery, peternak, mahasiswa, peneliti, maupun tenaga teknis di lapangan.

BACA JUGA:FAST UB Latih Warga Bojonegoro Olah Telur Jadi Kerupuk, Dukung Program Gayatri

Diperkenalkan di Indo Livestock 2026


Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI saat meninjau stan FAST UB yang memamerkan PIYIKAI dan AFLAVISION pada Indo Livestock Expo & Forum 2026. -fkh ub --

PIYIKAI pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat dan pelaku industri pada Indo Livestock Expo and Forum 2026 yang berlangsung di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2 Tangerang pada 16–18 Juni 2026.

Melalui ajang internasional tersebut, tim peneliti memperoleh berbagai masukan dari perusahaan peternakan, akademisi, pemerintah, serta praktisi mengenai peluang pengembangan teknologi pada tahap berikutnya.

FAST UB menegaskan bahwa pengembangan PIYIKAI merupakan bagian dari komitmen menghadirkan riset yang tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh industri.

Selain meningkatkan efisiensi identifikasi DOC, inovasi ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produktivitas sektor perunggasan, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat transformasi digital peternakan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui proses identifikasi DOC yang lebih cepat, efisien, dan terukur.

BACA JUGA:BIOFORA Antar Mahasiswa FAST UB Raih Juara 2 Nasional di FETHOR 2026

Ke depan, PIYIKAI akan terus disempurnakan melalui pengujian dalam skala industri yang lebih luas serta kolaborasi dengan perusahaan pembibitan dan penetasan unggas. Inovasi ini sekaligus menjadi implementasi nyata konsep Industri Peternakan Cerdas yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, Inovasi, dan kebutuhan dunia usaha untuk mewujudkan Peternakan Indonesia yang modern, efisien, dan berdaya saing.

Sumber:

Berita Terkait