MALANG, DISWAYMALANG.ID–Kebebasan masa kanak-kanak yang mulai tergerus oleh era digital dan tekanan sosial memicu lahirnya gerakan global baru. Dikutip dari unicef.org, mulai tahun 2024, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menetapkan tanggal 11 Juni sebagai Hari Bermain Internasional (International Day of Play). Keputusan ini bukan sekadar seremonial, tetapi respons mendesak terhadap krisis ruang dan waktu bermain yang dihadapi anak-anak di abad ke-21.
Berakar dari Konvensi Hak Anak PBB
Jauh sebelum hari ini diresmikan, hak bermain sebenarnya telah diakui dunia melalui Pasal 31 Konvensi PBB tentang Hak Anak. Konvensi tersebut menyatakan bahwa setiap anak memiliki hak untuk beristirahat, bersantai, dan terlibat dalam kegiatan bermain yang sesuai dengan usia mereka. Namun, dalam praktiknya, implementasi pasal ini kerap diabaikan demi tuntutan akademis yang kaku dan minimnya infrastruktur ramah anak.
Diinisiasi oleh Koalisi Global dan Diadopsi PBB
Melihat situasi anak-anak dunia yang semakin terisolasi di depan layar kaca dan gawai, sebuah koalisi global yang dipelopori oleh beberapa negara anggota PBB —termasuk Bulgaria, El Salvador, Jamaika, Kenya, Luksemburg, dan Vietnam—bersama UNICEF, UNESCO, dan The LEGO Foundation mengajukan petisi resmi.
Gerakan ini membuahkan hasil manis ketika Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi Nomor A/RES/78/268 pada tanggal 25 Maret 2024. Resolusi ini menandai tonggak sejarah baru dengan menetapkan 11 Juni sebagai hari kesadaran global tahunan untuk merayakan kekuatan bermain.
Urgensi Nyata di Era Modern
PBB meresmikan hari ini berdasarkan
- Hilangnya Ruang Aman: Pertumbuhan area urbanisasi mempersempit taman bermain luar ruangan yang aman dan inklusif bagi anak-anak.
- Krisis Interaksi Sosial: Statistik menunjukkan sekitar 1 dari 5 anak berusia 2–4 tahun jarang atau tidak pernah bermain dengan pengasuh atau orang tua mereka di rumah.
- Kebutuhan Pemulihan Trauma: Bagi anak-anak yang berada di daerah konflik atau mengalami bencana, bermain merupakan sarana krusial untuk memulihkan kesehatan mental dan memproses trauma emosional.
Melalui pemahaman latar belakang ini, Hari Bermain Internasional diposisikan sebagai momentum pengingat bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia untuk mengintegrasikan aktivitas bermain ke dalam kurikulum pendidikan formal serta tata kota yang ramah anak.
Anak Butuh Main 3 Jam Sehari dengan Permainan Bervariasi
Lalu, berapa lama batas anak bermain dalam sehari? Sebenarnya tidak ada aturan khusus mengenai hal ini. Namun, para ahli umumnya merekomendasikan anak untuk bermain selama tiga jam sehari, dikutip dari Klikdokter.
Selain itu, satu hal yang harus diperhatikan orang tua adalah jenis permainan yang dimainkan anak. Usahakan untuk menyediakan permainan yang bervariasi, baik untuk dilakukan di dalam maupun di luar ruangan.
Berikut ini adalah variasi permainan yang sebaiknya disediakan orang tua berikut dengan manfaatnya:
1. Bermain dengan Mainan atau Benda Tertentu
Orang tua bisa menyediakan mainan berupa boneka, mobil-mobilan, dan sebagainya.
Melalui jenis permainan seperti ini, kemampuan motorik dan sensorik anak akan terasah. Anak akan terlatih untuk membedakan mana benda yang keras dan yang lunak.
Selain itu, anak juga bisa mempelajari sebab-akibat, misalnya jika ia menabrakkan mobil-mobilannya, maka akan terdengar bunyi “bum”, dan sebagainya.
Jika mainan ini digunakan bersama temannya, anak juga akan belajar untuk berbagi dan tidak saling berebut satu sama lain.
2. Aktivitas Fisik
Bermain melibatkan aktivitas fisik, seperti bermain jungkat-jungkit, ayunan, atau trampolin juga memiliki manfaat yang baik.
Permainan seperti ini akan mengasah kemampuan motorik kasar anak, mencegah obesitas, serta meningkatkan kecerdasan emosionalnya.
3. Bermain di Luar Ruangan
Bermain di luar ruangan seperti di taman, kebun, lapangan, atau pantai akan mengasah kemampuan spasial anak. Anak juga akan lebih waspada terhadap lingkungan sekitarnya.
Selain itu, studi menemukan bahwa anak yang banyak menghabiskan waktu untuk bermain di luar ruangan umumnya lebih kreatif dan memiliki keberhasilan di bidang akademik yang lebih tinggi dibanding anak yang jarang bermain di luar ruangan.
4. Bermain Peran (Pretend Play)
Bermain peran, misalnya bermain dokter-dokteran, menjadi koki, menjadi polisi, dan sebagainya terbukti meningkatkan kreativitas anak.
Tak hanya itu, bermain peran juga dapat mengoptimalkan kemampuan anak dalam berbahasa dan berkomunikasi, serta meningkatkan kemampuan anak untuk memimpin dan bernegosiasi.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyebutkan bahwa bermain akan menstimulasi otak anak, mengoptimalkan pertumbuhannya, serta meningkatkan ikatan emosi dan sosial anak dengan orang tua dan teman-teman sebayanya.
Lebih lanjut, AAP menjelaskan bahwa bermain akan meningkatkan kemampuan anak untuk merencanakan dan mengelola tugas yang dipercayakan dengan baik.
Selain itu juga meningkatkan kemampuan berbahasa, mengasah kemampuan berhitung dan logika, serta membantu anak untuk lebih mudah beradaptasi jika menghadapi tekanan.
Batasi Anak Menggunakan Gawai
Jangan lupa juga, waktu yang dihabiskan anak di depan gawai (handphone) harus dibatasi. AAP menyarankan agar anak yang berusia di bawah dua tahun sebaiknya tidak menggunakan gawai sama sekali.
Sementara itu, untuk anak dengan usia lebih besar, AAP menyatakan untuk tidak menggunakan gawai lebih dari dua jam sehari.