Bediding Melanda Kota Batu, Warga Diingatkan Bahaya Gangguan Pernapasan
Ilustrasi warga Kota Batu sedang berolahraga di musim kemarau -Sholeh-Diswaymalang.id
BATU, DISWAYMALANG.ID--Musim kemarau di Kota Batu tidak bisa lepas dari bediding. Yaitu fenomena suhu udara terasa sangat dingin dari biasanya, terutama pada malam, dini hari, hingga pagi hari.
Perubahan cuaca dan meningkatnya aktivitas di luar ruangan itu membuat potensi penyakit pernapasan meningkat. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Kota Batu mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala flu, alergi, dan gangguan pernapasan lain.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu dr Icang Sarrazin menyebutkan kondisi yang banyak ditemui saat ini masih didominasi oleh infeksi flu biasa atau influenza. Namun yang perlu diwaspadai bukan hanya virusnya, melainkan juga partikel debu yang beterbangan di udara.
“Debu-debu yang beterbangan ini kalau terhirup dan masuk ke mulut bisa memicu reaksi alergi. Bagi orang yang punya riwayat alergi tinggi, risikonya jadi lebih besar,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Untuk meminimalkan risiko, masyarakat disarankan memakai masker ketika berada di tempat ramai. Masker berfungsi sebagai filter sederhana agar debu dan polutan, tidak langsung masuk ke saluran pernapasan. dr Icang menegaskan, kebiasaan itu terbukti efektif menekan paparan pemicu alergi dan infeksi.
"Saran saya kalau kumpul di keramaian pakailah masker untuk menjaga debu tidak masuk. Karena tingkat alergi tinggi sehingga penyakit yakan masuk," ulasnya.
BACA JUGA:Bromo Diselimuti Embun Beku, Suhu Dini Hari Turun hingga di Bawah 5 Derajat Celsius
Selain flu, dr Icang menegaskan kondisi seperti HISPA, asma, serta radang tenggorokan atau faringitis juga perlu mendapat perhatian khusus. Penderita asma dan alergi kulit diketahui lebih rentan mengalami kekambuhan ketika terpapar debu dan udara dingin.
Menurutnya, faringitis sering muncul sebagai dampak lanjutan dari iritasi tenggorokan akibat debu dan udara kering. Gejalanya berupa sakit saat menelan, suara serak, dan tenggorokan terasa kering.
"Saya menyarankan agar penderita alergi dan asma mengurangi aktivitas di luar rumah pada malam hari. Udara malam yang lebih dingin dan lembap dapat memicu serangan asma dan memperparah gejala alergi kulit," urai dr Icang.
BACA JUGA:Cuaca Malang Raya 1 Juni 2026 Dominan Cerah Berawan hingga Berawan, Sudah Mulai Bediding
Upaya pencegahan paling mendasar, lanjut dr Icang, tetap berada pada perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan dan minum, menggunakan alat makan pribadi, serta menjaga kebersihan lingkungan, masih menjadi pertahanan utama terhadap penyebaran penyakit menular.
Selain itu, dr Icang menegaskan, menjaga rutinitas olahraga juga dinilai penting untuk menjaga kebugaran jasmani. Aktivitas fisik membantu menjaga metabolisme tubuh tetap tinggi. Ketika metabolisme berjalan optimal, produksi antibodi juga ikut meningkat sehingga daya tahan tubuh terhadap infeksi bakteri menjadi lebih kuat.
Sumber:
