Meski intensitasnya ditingkatkan, Perry memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada di atas metrik Assessing Reserve Adequacy (ARA) yang ditetapkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Saat ini, skor metrik ARA Indonesia tercatat masih berada di atas 100, yang merupakan batas bawah aman minimum.
"Jadi, kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup. Masih lebih dari cukup, sehingga dosis intervensinya kami naikkan," ujar Perry dalam Rapat Kerja dengan DPR di Jakarta kemarin.
Perry melanjutkan bahwa langkah intervensi di pasar valuta asing tersebut merupakan salah satu strategi utama Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal.
Selain mengandalkan intervensi pasar, BI juga menaikkan tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi sebesar 6,41 persen. Langkah ini diambil untuk mendukung dan memicu arus masuk modal asing (capital inflow) ke dalam pasar keuangan domestik.
BACA JUGA:Biaya Umrah dari Jatim Bakal Naik hingga Rp5 Juta, Dipicu Harga Tiket Pesawat Melejit
Menurut Perry, kebijakan menaikkan bunga instrumen moneter tersebut dinilai cukup efektif. Hal ini tecermin dari arus masuk modal bersih melalui SRBI yang mencatatkan angka sebesar USD 105,16 miliar secara tahun kalender hingga 18 Mei 2026.
"Kenapa kami meningkatkan bunga SRBI? Supaya net inflow masih terjadi. Alhamdulillah itu mencatat inflow, sehingga menambah pasokan valas di dalam negeri," tutur Perry.
Sebagai langkah komprehensif lainnya, Perry menjelaskan bahwa BI telah memperluas transaksi menggunakan mata uang yuan-rupiah di pasar domestik. Kebijakan ini sengaja didorong guna mengurangi ketergantungan pelaku ekonomi terhadap penggunaan dolar AS dalam transaksi internasional.
Tidak hanya itu, Bank Indonesia juga akan memperketat aturan kepemilikan valuta asing dengan menurunkan batas pembelian dolar AS tunai di pasar domestik tanpa underlying asset. Batas pembelian yang sebelumnya sebesar USD 50 ribu per pelaku per bulan akan dipangkas menjadi USD 25 ribu yang mulai berlaku pada Juni mendatang. "Hal ini kami lakukan supaya yang beli dolar AS adalah yang betul-betul membutuhkan," kata Perry.