MALANG, DISWAYMALANG.ID– Universitas Negeri Malang terus memperkuat jejaring akademik internasional melalui program EQUITY skema inbound. Salah satu langkah konkret diwujudkan dengan menghadirkan akademisi internasional dari Leiden University, Marian Klamer, dalam forum bertajuk "Decolonising Knowledge Production" yang digelar di PustakaKafe UM, Jumat (20/2/2026).
Mengutip laman resmi UM, kegiatan tersebut diinisiasi oleh Kepala UPT Perpustakaan UM Dr Nurenzia Yannuar sebagai bagian dari strategi internasionalisasi kampus. Kehadiran Marian Klamer tidak hanya sebatas sebagai pembicara tamu, tetapi juga terlibat langsung dalam agenda kolaborasi akademik intensif bersama dosen dan mahasiswa lintas disiplin selama sepekan.
Berbagai kegiatan akademik digelar, mulai diskusi terbuka, kuliah tamu, hingga perumusan riset bersama. Program ini dirancang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan serta memperluas jejaring riset internasional sivitas akademika UM.
BACA JUGA:UM Gandeng More Community Hadirkan Website Konseling bagi Ibu Anak Disabilitas
“Kegiatan ini sangat penting karena menghadirkan pakar terbaik di bidangnya untuk berbagi pengetahuan berkualitas kepada seluruh sivitas akademika UM,” ujar Dr. Nurenzia Yannuar, dikutip dari laman resmi UM.
Kolaborasi tersebut tidak berhenti pada forum diskusi. Tim Fakultas Sastra UM bersama Marian Klamer melanjutkan kerja sama melalui penyusunan proposal penelitian bersama. Draf proposal telah diajukan untuk pendanaan, disertai rencana penulisan artikel ilmiah kolaboratif sebagai luaran terukur.
Menurut Nurenzia, skema inbound dalam program EQUITY memungkinkan proses transfer pengetahuan yang lebih mendalam dan berkelanjutan. Model kolaborasi ini dinilai mampu mempercepat terbentuknya jejaring riset konkret sekaligus memperkuat posisi UM dalam peta akademik global.
BACA JUGA:Dua dari 12 Penulis Hadir, Bedah Buku 'The Future Society' Bahas Kegelisahan Akademik di UIN Malang
Ia juga menegaskan peran perpustakaan yang kini tidak lagi sekadar pusat koleksi literatur, namun telah bertransformasi menjadi ruang kolaborasi dan laboratorium gagasan interdisipliner.
“Perpustakaan harus menjadi mitra strategis dalam riset dan kolaborasi akademik,” tegasnya.
Penguatan kolaborasi internasional tersebut sejalan dengan komitmen UM terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui program EQUITY, UM mendorong produksi pengetahuan yang inklusif, kolaboratif, dan berdampak global.
BACA JUGA:Rektor UIN Malang Soroti Pentingnya Teknologi Manusiawi dalam Bedah Buku 'The Future Society'
Ke depan, Dr Nurenzia berkomitmen memperluas akses hibah internasional agar semakin banyak akademisi dunia terlibat dalam kolaborasi bersama sivitas akademika UM. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat diplomasi akademik kampus serta meningkatkan reputasi riset dan publikasi ilmiah UM di tingkat internasional.