Buku ini diberikan secara gratis melalui tautan yang ada pada instagram milik pribadinya. Setebal 220 halaman, buku ini akan membawa pembaca kepada kisah pilu yang ditorehkan lewat tinta.
BACA JUGA:Atasi Masalah Kesehatan Mental, Wabup Malang Dukung Inisiasi 'Rumah Curhat Masyarakat'
Buku ini juga merekam fase pemulihan yang tidak instan, mencakup kebingungan, rasa bersalah, hingga proses mengenali kembali batasan diri. Pendekatan ini sejalan dengan literatur psikologi trauma yang menyebut pemulihan korban grooming sebagai perjalanan jangka panjang, bukan titik akhir yang mudah ditentukan.
Alasan Membuka Kisah ke Publik
Aurelie mengungkapkan, salah satu motivasinya menulis buku ini adalah respons terhadap banyaknya korban yang merasa sendirian dan tidak memiliki bahasa untuk menjelaskan apa yang mereka alami. Dengan membagikan kisahnya secara terbuka dan gratis, ia berharap dapat:
- membantu korban lain mengenali pola grooming sejak dini
- memvalidasi pengalaman penyintas yang kerap disangkal lingkungan sekitar
- membuka percakapan yang lebih jujur tentang kekerasan nonfisik terhadap anak dan remaja
- Respons publik yang luas, dengan puluhan ribu pembaca dalam waktu singkat, menunjukkan bahwa isu ini memiliki resonansi sosial yang kuat.
BACA JUGA:Digital Fatigue Gen Z! Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental menurut WHO
Dampak Sosial dan Relevansi yang Lebih Luas
Pengakuan Aurelie hadir di tengah meningkatnya perhatian global terhadap kekerasan berbasis relasi kuasa. Terutama di industri kreatif dan ruang kerja yang melibatkan anak serta remaja. Lembaga internasional seperti UNICEF dan National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) menekankan pentingnya edukasi publik untuk mengenali grooming sebagai bagian dari pencegahan.
Dengan menjadikan pengalaman personal sebagai narasi publik, Broken Strings berfungsi sebagai medium edukasi sosial, bukan sekadar otobiografi.
Buku ini menempatkan korban sebagai subjek yang berdaulat atas ceritanya sendiri. Sebuah pendekatan yang kini semakin ditekankan dalam praktik penulisan trauma-informed.
Kesaksian yang Tidak Bisa Dihapus
Aurelie menegaskan kisah yang telah dibagikan dan menyentuh banyak orang tidak bisa lagi dihapus, dan memang tidak seharusnya. Dalam konteks sosial, kesaksian seperti ini berperan sebagai arsip ingatan kolektif yang mendorong perubahan cara pandang terhadap kekerasan psikologis.
BACA JUGA:Healing Through Music: Bagaimana Musik Membantu Kesehatan Mental Gen Z versi WHO
Broken Strings bukan hanya tentang luka masa lalu, namun tentang keberanian merebut kembali suara, membangun kesadaran. Serta menciptakan ruang aman bagi generasi muda untuk memahami bahwa manipulasi bukanlah cinta, dan kontrol bukanlah perhatian.