Akan tetapi, dari peristiwa tersebut Indonesia menjadi salah satu negara dengan dampak yang paling parah. Lantaran, gempa yang memicu tsunami ini disebabkan adanya interaksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Dari adanya pergeseran batuan secara tiba-tiba tersebut telah memicu gempa yang disertai pelentingan batuan dan terjadi di bawah pulau atau di dasar laut. Kemudian, dasar samudera yang naik ke palung Sunda telah mengubah serta menaikkan permukaan air laut ke atas.
Akibatnya permukaan datar air laut di pantai barat Sumatera juga ikut terpengaruh dan sempat mengalami penurunan muka air laut. Dari proses itulah yang membuat air laut bergoyang dan menimbulkan gelombang laut yang kini sering disebut dengan tsunami.
Gempa dan Tsunami Aceh dalam Kenangan
Mulai tahun 2005 hingga 2009, telah dilakukan proses rekontruksi dan rehabilitasi untuk pulihkan kembali kondisi Kota Aceh yang sebelumnya telah porak-poranda dihantam tsunami.
Selain itu, untuk mengenang bencana besar tersebut juga telah dibangung sebuah museum yang diberi nama, Museum Tsunami Aceh. Museum tersebut dirancang oleh Ridwan Kamil yang bertindak sebagai arsiteknya.
Kini, museum tersebut dijadikan sebagai situs mengenang dengan menyuguhkan diorama yang menggambarkan bagaimana saat peristiwa mengerikan tersebut terjadi.
Bahkan, di dalam museum tersebut juga terukir daftar panjang nama-nama korban peristiwa gempa dn tsunami Aceh di tahun 2004 silam.
Mimpi Buruk Datang Lagi setelah 21 Tahun
Kini, musibah kembali datang mendera di Provinsi Aceh, bahkan dampaknya lebih luas dari tsunami. Bentuknya banjir bandang, dipicu cuaca ekstrem, pembalakan hutan dan penambangan ilegal.
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat banjir tahun ini melanda 18 Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh. Yaitu:, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang,Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam,Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis (25/12/2025), jumlah korban meninggal dunia mencapai 504 orang dan 31 orang dinyatakan hilang.
Kepala Basarnas Banda Aceh Ibnu Harris Al Hussain di Banda Aceh mengatakan operasi pencarian korban dialihkan ke operasi pemantauan. "Operasi pencarian yang sejak sebulan dilakukan dihentikan dan dialihkan ke operasi pemantauan. Dalam beberapa hari terakhir operasi pencarian tidak membutuhkan hasil," kata Harris Al Hussain.
Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang dan Bireuen pada 26 November 2025 merusak ribuan rumah, menghanyutkan harta benda, dan merendam jalan lintas nasional. -dok.antara--
Rekapitulasi Korban Banjir Bandang di Provinsi Aceh:
Selengkapnya data dari Media Center posko tanggap darurat bencana hydrometeorology Aceh tahun 2025, Banda Aceh (Rabu, 24 Desember 2025) pukul 21.30 WIB, sebagai berikut:
- korban terdampak 540.281 KK/ 2.017.542 jiwa,
- korban jiwa: meninggal 504, hilang 31, luka ringan 4.939, luka berat 474
- Jumlah pengungsian 2.174 titik, berasal dari 92.815 KK dan 367.623 jiwa.
- Kerusakan fasilitas umum: gedung/kantor 220 rusak, rumah ibadah 631 rusak, fasilitas kesehatan 193 rusak, fasilitas pendidikan 1218 rusak.
- Kerusakan jalan: 1.098 ruas dan jembatan 492 unit.
- Kerusakan harta benda: rumah 125.842 rusak, ternak 56.387 ekor, sawah 72.406 Ha, 23.307 kebun Ha serta tambak 39.505 Ha.
- Angka-angka di atas terus mengalami perubahan tergantung kondisi di lapangan.