Dengan proses produksi yang panjang dan beberapa kali penundaan, angka tersebut dinilai masih bisa terus bertambah.
Namun, Vermeij menilai harga jual tinggi bukanlah solusi utama untuk menutup biaya tersebut. Menurutnya, kekuatan merek Grand Theft Auto justru terletak pada basis pemain yang sangat besar.
Dengan mematok harga sekitar USD 70 atau sekitar Rp1.420.000, Rockstar dapat menarik sebanyak mungkin pemain sejak hari pertama rilis.
Setelah itu, Rockstar Games bisa memaksimalkan pendapatan melalui mode online, konten tambahan, hingga sistem berlangganan.
BACA JUGA:Mundur Lagi, GTA 6 Akan Rilis Akhir Tahun 2026: Rockstar Games Janji Fans Akan Puas
Hingga kini, Rockstar Games memang belum secara resmi mengumumkan keberadaan mode online di GTA 6.
Namun, berbagai bocoran dan laporan dari orang terpercaya dalam industri itu menyebut bahwa mode daring GTA 6 sudah berada dalam tahap pengembangan lanjutan.
Bahkan ada spekulasi bahwa mode online tersebut bisa dirilis terpisah setelah game utama meluncur. Vermeij juga menyoroti masa depan biaya pengembangan game.
Ia menyebut GTA 6 berpeluang menjadi game termahal “untuk waktu yang sangat lama.” Karena teknologi kecerdasan buatan atau AI diperkirakan akan menekan biaya produksi di masa depan.
Menurutnya, sekitar 70 persen biaya pengembangan game berasal dari pekerjaan artistik yang bersifat repetitif. Seperti rigging dan perbaikan mesh, yang suatu saat bisa diotomatisasi oleh AI.
Meski demikian, penggunaan AI dalam pengembangan game masih menuai pro dan kontra di kalangan pengembang maupun pemain.
Untuk saat ini, satu hal yang relatif menenangkan bagi gamer adalah pernyataan Vermeij. Bahwa GTA 6 hampir pasti tidak akan mematok harga 100 dolar AS saat dirilis.