Komisi C DPRD Soroti Rendahnya Minat Anak Muda Batu Jadi Petani

Komisi C DPRD Soroti Rendahnya Minat Anak Muda Batu Jadi Petani

‎Seorang petani sedang mengolah sawah di Desa Sumberejo Kecamatan Batu Kota Batu ‎-Sholeh/Diswaymalang-

BATU, DISWAYMALANG.ID - Berbagai pelatihan, pembinaan, hingga sertifikasi sudah diberikan. Teknologi canggih seperti smart farming pun sudah diperkenalkan. Namun, minat anak muda Kota Batu untuk terjun ke dunia pertanian masih saja rendah.

‎Ketua Komisi C DPRD Kota Batu, Dewi Kartika, menilai pemerintah harus berani membenahi akar persoalannya, bukan hanya menambah program pelatihan. ‎"Regenerasi bukan hanya persoalan menambah jumlah anak muda yang turun ke sawah," katanya, Minggu (8/11/2026).

‎BACA JUGA:Spirit '80-an di Galeri Raos: Ajang Reuni dan Perhelatan Karya 13 Perupa Jatim

‎Menurut Kartika, selama hasil pertanian belum memberikan pendapatan yang menjanjikan, profesi petani akan terus kalah pamor dibandingkan pekerjaan di sektor lain, seperti pariwisata, perdagangan, maupun kerja kantoran.

‎Tahun ini, Pemkot Batu mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 juta untuk pelatihan dan sertifikasi petani muda. Anggaran itu penting, tapi menurut Kartika, tidak akan cukup jika tidak dibarengi kebijakan yang benar-benar meningkatkan kesejahteraan petani.

‎Salah satu biang masalahnya adalah rantai pemasaran yang masih panjang dan tidak berpihak kepada petani. Petani sering kali bergantung penuh pada tengkulak, sehingga harga jual di tingkat petani jauh lebih rendah dibanding harga di pasar.

‎BACA JUGA:Kembali ke Esensi Budaya, Kelurahan Sisir Sukses Gelar Karnaval Nusantara Tanpa Sound Horeg

‎"Mungkin dengan menghilangkan sistem tengkulak yang menyebabkan penjualan hasil pertanian kurang menjanjikan, mereka bisa tertarik," ujar Kartika.

‎Ia mendorong pemerintah untuk memperbaiki akses pasar secara serius. Petani perlu punya jalan langsung ke pasar yang lebih luas, ke pasar ritel modern, hingga ke konsumen langsung, agar keuntungan yang mereka dapatkan jauh lebih layak.

‎Selain pembenahan pasar, Kartika juga mendorong pemberian beasiswa bagi generasi muda yang menempuh pendidikan di bidang pertanian.

‎BACA JUGA:Kendalikan Hama Lalat Buah, Pemkot Batu Gandeng BRIN

‎Pendidikan dinilai menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan teknologi dan metode pertanian modern. Anak muda yang paham teknologi akan melihat pertanian bukan lagi sebagai pekerjaan kuno yang melelahkan, tetapi sebagai bisnis modern yang menjanjikan.

‎"Dukungan lain yang tak kalah penting adalah subsidi pupuk, obat-obatan, serta sarana dan prasarana pertanian. Dengan dukungan itu, petani muda tidak hanya punya ilmu, tetapi juga modal dan fasilitas untuk mengembangkan usaha taninya," jelasnya.

‎Di sisi lain, Pemkot Batu sebenarnya sudah menjalankan pembinaan petani muda sejak 2024. Program yang awalnya dikemas lewat Abang Tani Kelas itu kini dikembangkan menjadi Petani Muda Berdaya.

Sumber: