TPS 3R Sumbergondo Siapkan Inovasi Kompos Campuran Kohe

TPS 3R Sumbergondo Siapkan Inovasi Kompos Campuran Kohe

Proses pencoperan sampah organik untuk dijadikan kompos di TPS 3R Rejeki Barokah Sumbergondo.-panca rp-

BUMIAJI, DISWAYMALANG.ID — Pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat desa terus menunjukkan geliat positif. Salah satunya dilakukan oleh Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KMP) Rejeki Barokah di TPS 3R Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Di tengah berbagai tantangan, kelompok ini konsisten memproduksi pupuk kompos berkualitas untuk mendukung sektor pertanian dan pekarangan warga.

BACA JUGA:TPS 3R Rejeki Barokah Batu Jadi Wisata Edukasi Pengelolaan Sampah

​Jumati, ketua KMP Rejeki Barokah, Jumat (6/11/2026), menjelaskan, proses pembuatan kompos dari sampah organik hingga siap panen butuh waktu sekitar tiga bulan. Proses penguraiannya dilakukan secara berkala. Dengan penambahan bahan pengurai seperti EM4 serta eco-enzym untuk mempercepat proses pembusukan dan menghilangkan bau tidak sedap.

​"Prosesnya tiap satu minggu sekali diaduk, terus dikasih EM4 sama eco-enzym sebagai pengurai dan pembur," ujar Jumiati saat ditemui di TPS 3R Sumbergondo.

​Meski kapasitas produksi telah berjalan, Jumiati mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini terletak pada aspek pemasaran. Sebagian besar hasil kompos dikemas dalam karung ukuran 25kg. Diisi penuh, dengan harga jual ke Dinas Lingkungan Hidup (LH) Rp1.100 per kilogram.

Sementara itu, untuk pemanfaatan mandiri, kompos tersebut kerap digunakan warga sekitar untuk menyuburkan tanaman pekarangan dan sayuran.

BACA JUGA:Akses TPS 3R Pesanggrahan Batu Sempit, DPUPR Siapkan Pelebaran Jalan 230 Meter

​"Sekarang itu laku Rp1.100, diambil di LH. Kalau kita memanfaatkan buat pekarangan sendiri ini nanam-nanam sayur nanti di belakang, buat nanam-nanam sayur sendiri," ungkap Jumiati menjelaskan pemanfaatan kompos.

​Ke depan, KMP Rejeki Barokah berencana melakukan inovasi dengan mencampurkan kotoran hewan (kohe) seperti kotoran kambing dan ayam ke dalam bahan baku kompos. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas unsur hara. Sekaligus mendongkrak nilai jual pupuk agar lebih bernilai ekonomis bagi kelompok.

Kendati demikian, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat serta petani lokal masih terus dilakukan. Hal itu dilakukan guna membangun kepercayaan terhadap kualitas kompos organik produksi lokal ini.

BACA JUGA:TPS 3R Pesanggrahan Kota Batu Ditarget Beroperasi Akhir 2026, Layani 13 RW

​"Nanti kalau dicampur itu harganya pasti mahal, membuat percontohan dulu, nanti harganya bisa agak mahal kalau ada kotoran kambing, kotoran ayam. Tapi kita kalau ada orang pesan, memenuhi target kita masih belum bisa, mau coba-coba dulu," pungkas Jumiati.

Sumber: