Penerima LPDP Kuliah di Australia, Biaya Miliaran Ditanggung Negara! Ini Kisah Samhan
Penerima LPDP Samhan kuliah S2 di UNSW Australia. Simak biaya yang ditanggung dan alasannya memilih energi terbarukan.-Ilustrasi AI -
YOGYAKARTA, DISWAYMALANG.ID - Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) membuka kesempatan bagi anak muda Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi di kampus dunia tanpa harus terbebani biaya kuliah yang mahal.
Samhan, lulusan Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) asal Yogyakarta, menjadi salah satu penerimanya dan kini menempuh pendidikan S2 di University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia, dengan fokus energi terbarukan.
Kisah Samhan dibagikan dalam perbincangan bersama Raditya Dika. Ia menceritakan alasan memilih bidang energi berkelanjutan, pengalaman hidup di Australia, hingga fasilitas beasiswa LPDP yang mendukung pendidikannya.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa kuliah di luar negeri bukan hanya soal mendapatkan gelar bergengsi. Ada proses menentukan bidang studi, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta tanggung jawab untuk membawa ilmu kembali ke Indonesia.
LPDP Tanggung Biaya Kuliah hingga Kehidupan di Australia
Salah satu daya tarik beasiswa LPDP adalah skema pendanaan penuh atau fully funded. Penerima beasiswa mendapatkan dukungan biaya pendidikan yang dapat mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah, bergantung pada kampus dan program studi yang dipilih.
Selain tuition fee, pembiayaan juga mencakup tunjangan hidup bulanan, tiket pesawat, serta sejumlah komponen pendukung seperti akomodasi dan visa sesuai ketentuan beasiswa.
Bagi mahasiswa internasional di Australia, biaya pendidikan memang menjadi salah satu tantangan terbesar. Karena itu, dukungan LPDP memberikan kesempatan bagi penerima beasiswa untuk lebih fokus menjalani studi.
Namun, fasilitas tersebut disertai tanggung jawab. Penerima beasiswa LPDP memiliki kewajiban kembali ke Indonesia dan mengabdi setelah menyelesaikan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Salah satu ketentuan yang dikenal adalah masa pengabdian dengan rumus 2n+1, yakni dua kali masa studi ditambah satu tahun. Aturan ini menjadi bagian dari komitmen agar ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi Indonesia.
Memilih Energi Terbarukan, Bukan Sekadar Ikut Tren
Samhan memilih bidang energi terbarukan karena melihat kebutuhan energi bersih akan terus berkembang. Fokus studinya berkaitan dengan sustainable energy, termasuk pemanfaatan energi surya atau solar energy melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Keputusan tersebut berangkat dari pertimbangan mengenai arah perkembangan teknologi dan kebutuhan energi masa depan. Ia melihat negara-negara maju mulai serius mengembangkan sistem energi yang lebih berkelanjutan.
"Waktu S1, gua mikir kayak bidang yang menarik buat masa depan... Gua melihat sustainable energy itu salah satu bidang yang kayak bakal berkembang, dan kalau kita melihat negara-negara maju, mereka banyak juga yang udah ke arah sana," kata Samhan.
Sumber:









