Peluang Masih Banyak, Kunjungan Wisatawan Asing di Kota Batu Dinilai Belum Maksimal

Peluang Masih Banyak, Kunjungan Wisatawan Asing di Kota Batu Dinilai Belum Maksimal

--

BATU, DISWAYMALANG.ID — Potensi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kota Batu sebenarnya memiliki peluang yang sangat besar. Terutama dijadikan kawasan Bromo, Tumpak Sewu, dan Ijen sebagai Segitiga Emas (Segitiga Emas) Jawa Timur. Kawasan tersebut saat ini tengah menjadi destinasi favorit wisatawan asal Tiongkok (China Daratan), Malaysia, dan Singapura.

​Rute perjalanan populer wisman tersebut biasanya dimulai dari penerbangan langsung Guangzhou ke Surabaya. Dilanjutkan ke Probolinggo, Bromo, Tumpak Sewu, hingga ke Ijen dengan durasi perjalanan rata-rata 4 hari 3 malam.

Namun, potensi besar ini dinilai belum maksimal oleh Kota Batu. Salah satunya, akibat minimnya promosi global, ketiadaan narasi (storytelling) yang kuat, serta terbatasnya informasi penyelidikan dalam bahasa asing, tentang Kota Batu.

​Hal tersebut diungkapkan oleh pelaku pariwisata sekaligus narasumber, Dr Muhamad Rizky Ramdan, M.AB dalam sebuah perbincangan khusus mengenai pariwisata daerah. Menurutnya, kondisi ini menyebabkan sebagian besar wisman lebih memilih menginap di Kota Malang dibandingkan Kota Batu.

Rizky menjelaskan, Malang itu secara infrastruktur dan penunjang pariwisata lebih lengkap. Ada Kayutangan Heritage, wisata kuliner, serta banyak aktivitas peninggalan sejarah (wisata peninggalan sejarah).

“Sehingga Malang lebih cocok dijadikan hub,” ujar Rizki yang juga ketua Hipmi Kota Batu, saat ditemui di Kota Batu, Sabtu (31/10/2026).

​Ia menambahkan, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Batu umumnya hanya singgah sebentar. Dengan destinasi, mengunjungi destinasi ikonik seperti Jatim Park, Wisata Petik Apel, Selecta, serta berwisata kuliner dan membeli oleh-oleh.

BACA JUGA: Gratis Seminggu, Disway Malang Jajal Trans Jatim Koridor II Madyopuro-Kepanjen, Penumpang Antusias

Sementara itu, target pasar Kota Batu masih didominasi oleh wisatawan nusantara, khususnya dari wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya, serta wisatawan asal Jakarta untuk keperluan company outing.

Kendala Promosi dan Bahasa 

Berdasarkan data tahun lalu, tingkat kunjungan wisman ke Kota Batu tercatat masih berada di angka kurang lebih 5.000 jiwa. Angka ini dinilai masih jauh dari potensi riil di lapangan. Mengingat, kunjungan wisatawan asal Tiongkok, Malaysia, dan Singapura sedang meningkat pesat. Antara lain, berkat promosi viral di platform media sosial seperti TikTok versi internasional serta aplikasi Douyin di Tiongkok.

​Selain faktor promosi digital yang belum menyasar pangsa pasar luar negeri, ketersediaan informasi multibahasa juga menjadi kendala utama. Jarang terdapat informasi yang bisa berbahasa asing, seperti bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, atau Prancis.

“Di media sosial, semuanya masih menggunakan bahasa Indonesia,” jelasnya.

​Meski demikian, beberapa biro perjalanan lokal di Jawa Timur telah mulai menggarap peluang pasar tersebut. Khususnya yang memiliki tenaga pemandu wisata berkemampuan bahasa Mandarin dan Inggris. Serta aktif memasarkan paket wisata melalui kanal media sosial berbahasa asing, Namun skala pelaksanaannya di tingkat lokal masih belum merata.


Ketua Hipmi Kota Batu, seklaigus Pelaku pariwisata, Dr. Muhammad Rizky Ramdhan SAB MAB-ist-Koleksi pribadi

BACA JUGA: Karnaval Bunga Seni Semarak Batu 2026, Ada Putri Gunung Banyak hingga Sungai Brantas

SDM dan Peran Pemerintah

​Menanggapi tantangan tersebut, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sektor pariwisata dinilai menjadi salah satu kunci utama yang mendesak untuk segera ditingkatkan. Khususnya dalam penguasaan bahasa asing bagi para pelaku lapangan.

​Menurut Rizky, ssbenarnya para lulusan pariwisata Polinema atau jurusan bahasa Mandarin dari UB maupun UM itu bisa meng-cover kebutuhan tersebut. “Bahkan beberapa siswa sudah mulai mandiri berjualan paket tur berbahasa Mandarin,” ungkap Rizki.

​Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya kehadiran pemerintah daerah dalam mendukung langkah strategi pemulihan dan perluasan pasar internasional. Menurutnya, dukungan tersebut berupa komitmen politik kepala daerah, kehadiran aktif dalam ajang promosi internasional. Seperti table top di Malaysia atau Singapura. Selain itu, selanjutnya, diperlukan alokasi anggaran promosi yang memadai untuk mengangkat posisi Kota Batu di kancah pariwisata global.

​Pemerintah perlu hadir tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem pariwisata internasional melalui fasilitas promosi dan penguatan jaringan komunitas pariwisata global,” tutupnya.

Sumber: