2 tahun Disway Malang

Festival Kampung Cempluk ke-16 Angkat Konsep Permata Tersembunyi

Festival Kampung Cempluk ke-16 Angkat Konsep Permata Tersembunyi

Pawon Lawasan, salah satu destinasi baru dalam Festival Kamplung Cempluk ke 16 ini.-panca rp-

Festival Kampung Cempluk ke-16 Usung Konsep Permata Tersembunyi, Hidupkan Kembali Pawon Lawas

MALANG, DISWAYMALANG.ID – Festival Kampung Cempluk ke-16 menghadirkan pendekatan baru dalam merawat tradisi lokal. Kali ini, festival di Dusun Sumbersari, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, mengusung konsep permata tersembunyi untuk menghidupkan kembali ruang budaya di tengah permukiman warga.

Konsep tersebut menggeser pusat kegiatan dari kawasan depan menuju bagian dalam kampung. Perubahan ini bukan sekadar penataan lokasi. Penyelenggara ingin menjaga esensi dan roh Kampung Cempluk melalui interaksi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dr Redy Eko Prasetyo SPsi MIKom, dosen Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) sekaligus warga setempat, menjelaskan bahwa keterlibatan kampus merupakan bagian dari upaya membangun sumber daya manusia di lingkungan sekitar perguruan tinggi.

Program Kampung Lingkar Kampus menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat. Pendekatan ini sekaligus memperkuat peran warga sebagai pelaku utama pelestarian budaya.

“Kalau dulu di depan itu ramai dengan cempluk, hari ini kita mulai bergeser ke kawasan dalam. Kita membuat konsep permata tersembunyi ini untuk menggantikan dan menjaga roh Cempluk itu sendiri agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ujar Redy saat ditemui di Festival Pawon Lawas Kampung Cempluk, Rabu (21/10/2026).


Dr Redy Eko Prasetyo SPsi MIKom, salah satu penggagas Kampung Cempluk yang juga dosen di Fakultas Vokasi UB.-ist-IG

Pawon Lawas Jadi Ruang Pertemuan Ilmu dan Budaya

Festival tahun ini juga menempatkan Pawon Lawas atau dapur tradisional sebagai salah satu pusat perhatian. Dalam pandangan masyarakat Jawa, dapur tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengolah makanan. Pawon juga menjadi ruang untuk mewariskan nilai, pengetahuan, doa, dan kebersamaan.

Redy, yang turut menggagas Kampung Cempluk sejak 16 tahun lalu, menilai dapur memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat. Ruang sederhana itu menyimpan dimensi sosial sekaligus spiritual.

“Representasi yang paling substansi secara spirit Jawa itu ada di dapur. Di sana tidak hanya ada konteks ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang paling spiritual yang penuh dengan doa-doa baik,” jelasnya.

Konsep Pawon Lawas juga menjadi respons terhadap perubahan pola komunikasi masyarakat. Arus informasi dan perkembangan teknologi membuat interaksi langsung perlu terus dirawat.

Melalui ruang budaya tersebut, warga, pelajar, komunitas, dan kalangan akademisi dapat bertemu. Mereka berkesempatan bertukar gagasan sekaligus membangun hubungan yang lebih erat.

Pendekatan ini menjadi relevan karena kawasan sekitar Kampung Cempluk terus mengalami perubahan seiring perkembangan wilayah perkotaan Merjosari. Ruang yang terbatas dioptimalkan sebagai tempat perjumpaan lintas komunitas.

Kolaborasi Multidisiplin Universitas Brawijaya

Keterlibatan Universitas Brawijaya dalam Festival Kampung Cempluk tidak hanya berkaitan dengan seni dan kebudayaan. Sejumlah disiplin ilmu turut dilibatkan untuk merespons persoalan masyarakat secara lebih luas.

Redy menyebut Fakultas Vokasi, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), dan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) sebagai bagian dari kolaborasi tersebut.

Sumber: