2 tahun Disway Malang

QRIS di Pasar Tradisional Kota Malang Belum Optimal, Pedagang Terkendala Sinyal dan Tunai

QRIS di Pasar Tradisional Kota Malang Belum Optimal, Pedagang Terkendala Sinyal dan Tunai

Pedagang mulai menggunakan QRIS untuk bertransaksi non tunai--Fairuz Ainur

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mulai digunakan sejumlah pedagang pasar tradisional Kota Malang. Namun, transaksi nontunai tersebut belum menjadi pilihan utama karena kendala jaringan internet dan kebiasaan masyarakat menggunakan uang tunai.

Kondisi itu terlihat di Pasar Besar Kota Malang, Jumat 25 September 2026. Sejumlah pedagang yang telah menyediakan QRIS mengaku transaksi melalui metode pembayaran digital mulai muncul, tetapi jumlahnya masih jauh dibandingkan transaksi tunai.

Bagi pedagang yang telah menggunakannya, QRIS dinilai memberi kemudahan. Pembeli tetap bisa bertransaksi ketika tidak membawa uang fisik, sementara pedagang tidak perlu menyediakan banyak uang pecahan untuk kembalian.

Transaksi QRIS Mulai Tumbuh

Lutfi Zakaria, salah seorang pedagang jajanan pasar, mengatakan penggunaan QRIS di lapaknya menunjukkan perkembangan dalam setahun terakhir.

BACA JUGA: Harga Sayuran di Malang Naik, Tomat Tembus Rp12 Ribu per Kg hingga Kembang Kol Rp22 Ribu

Menurut dia, transaksi melalui QRIS kini menyumbang sekitar 10 persen dari keseluruhan transaksi hariannya. “Dari total transaksi ada peningkatan sekitar 10 persen dari penggunaan QRIS,” ujar Lutfi, Jumat 25 September 2026.

Keberadaan QRIS juga dinilai membantu mempertahankan transaksi yang sebelumnya berpotensi batal karena pembeli tidak membawa uang tunai. “Yang tidak bawa tunai sering gak jadi beli. Sekarang kan sudah ada QRIS, yang gak punya tunai tetap bisa membeli,” katanya.

Bagi pedagang, kondisi tersebut menunjukkan pembayaran digital mulai memiliki manfaat praktis dalam transaksi bernilai kecil sekalipun.

Sinyal Jadi Kendala di Pasar

Namun, pengalaman berbeda dirasakan Victor, pedagang sayur di Pasar Besar. Ia memang menyediakan pilihan pembayaran melalui QRIS. Akan tetapi, penggunaannya masih terbatas karena persoalan jaringan internet di area pasar.

Menurut Victor, dalam sehari hanya sekitar satu hingga dua pembeli yang menggunakan QRIS untuk bertransaksi di lapaknya. "Di sini sinyalnya susah. Kalau tidak ada sinyal, transaksinya gagal. Akhirnya orangnya pakai tunai,” katanya.

Kondisi tersebut membuat pembayaran digital belum memberikan dampak besar terhadap volume penjualan Victor. Ketika transaksi QRIS gagal, pembeli biasanya kembali menggunakan uang tunai.

Masalah jaringan menjadi salah satu tantangan penting karena transaksi QRIS bergantung pada koneksi untuk memproses pembayaran secara digital.

BACA JUGA: Pemkot Batu Siapkan 8 Ruang Kreatif untuk Seniman, Mural Lingkungan Jadi Prioritas

Masih Ada Pedagang yang Khawatir Biaya

Selain persoalan jaringan, pemahaman mengenai biaya transaksi juga memengaruhi minat pedagang menggunakan QRIS.

Sumber: