Gita Wirjawan Dorong Mahasiswa Institut Asia Malang Berani Bangun Karier Global
Mantan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan From East Java to Southeast Asia: How to Build a Global Career” di Institut Teknologi dan Bisnis Asia --
KLOJEN, DISWAYMALANG.ID—Karier mahasiswa tidak harus berhenti di pasar kerja Indonesia. Mantan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan mendorong mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang untuk memperluas kapasitas dan berani membidik peluang profesional hingga tingkat global.
Pesan tersebut disampaikan Gita dalam kegiatan “From East Java to Southeast Asia: How to Build a Global Career” di Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang, Jumat (11/9/2026). Ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kepemilikan ijazah, tetapi menjadi bekal untuk memahami persoalan, membaca peluang, dan meningkatkan kemampuan diri.
Menurut Gita, kemampuan membangun karier juga berkaitan dengan keberanian menciptakan peluang. Ia memperkenalkan konsep “smart serendipity”, yakni keberuntungan yang dibangun melalui ikhtiar setelah seseorang berdoa dan mengambil langkah yang tepat.
“Pendidikan mungkin merupakan salah satu dari sedikit hal yang secara struktural mampu membesarkan manusia pada berbagai tingkatan. Pendidikan dapat membesarkan individu, keluarga, organisasi, bangsa, negara, bahkan peradaban,” ujar Gita.
Ia juga mengenalkan konsep “smart serendipity”, yakni keberuntungan yang dibangun melalui ikhtiar. Menurut Gita, peluang tidak cukup ditunggu, tetapi harus diupayakan melalui tindakan yang tepat.
“Doa saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan ikhtiar. Smart serendipity adalah ketika kita berdoa, tetapi kemudian melakukan ikhtiar yang benar,” katanya.
Karier Global Butuh Ambisi dan Imajinasi
Menurut Gita, kemampuan mahasiswa untuk bersaing di tingkat global tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal. Ambisi, imajinasi, dan keberanian mengambil peluang juga diperlukan.
Ia menilai institusi pendidikan dan guru memiliki peran penting dalam membangun kemampuan tersebut.
“Kalau tidak ada ambisi, tidak akan jadi rektor. Kalau tidak ada imajinasi, kita tidak bisa menggapai bulan. Yang ketiga adalah keberuntungan cerdas. Itu tugasnya guru,” ujarnya.
Gita juga mengingatkan bahwa kemampuan sumber daya manusia berkaitan dengan kualitas ekosistem sebuah negara. Ia menyebut pendidikan, infrastruktur, dan tata kelola pemerintahan sebagai tiga aspek yang berpengaruh terhadap daya saing.
Ia menyoroti ketimpangan distribusi barang publik antara pusat dan daerah yang dapat memengaruhi kemampuan masyarakat maupun pelaku usaha daerah dalam menghadapi persaingan.
“Kalau distribusi barang publiknya timpang, bagaimana saya menjadi pengusaha dan bersaing dengan pengusaha di Jakarta?” ujarnya.
Kepastian Aturan Dibutuhkan Dunia Usaha
Sumber:


