2 tahun Disway Malang

Hewan Punah yang Punya Rekaman Terakhir, dari Dodo hingga Harimau Jawa

Hewan Punah yang Punya Rekaman Terakhir, dari Dodo hingga Harimau Jawa

Hewan punah meninggalkan rekaman dan jejak terakhir yang menyedihkan, dari dodo, harimau Tasmania, hingga Harimau Jawa.-SS YOUTUBE -

JAKARTA, DISWAYMALANG.ID - Rekaman terakhir sejumlah hewan punah menjadi jejak visual yang tersisa setelah spesies tersebut benar-benar menghilang dari bumi.

Mulai dari harimau Tasmania yang terekam berjalan di dalam kandang hingga burung Kauai yang menyanyikan panggilan terakhirnya tanpa pernah mendapat jawaban.

Kisah hewan punah tersebut menunjukkan bahwa kepunahan tidak selalu terjadi secara tiba-tiba.

Dalam sejumlah kasus, populasi satwa terus menyusut akibat perburuan, hilangnya habitat, penyakit, hingga perubahan lingkungan yang disebabkan aktivitas manusia.

Salah satu kisah paling memilukan datang dari burung yang disebut dalam rekaman sebagai Headh.

Dahulu, burung kecil tersebut hidup bebas di padang rumput Amerika dan berjumlah ribuan. Perburuan besar-besaran serta hilangnya habitat membuat populasinya terus menurun.

Hingga akhirnya hanya tersisa seekor jantan bernama Booming Band. Setiap hari ia mengeluarkan suara khas untuk mencari betina.

Namun tidak pernah ada jawaban. Pada 1932, Booming Band menghilang dan spesies tersebut dinyatakan punah.

Dari Parkit hingga Kuangga

Kisah serupa dialami parkit Carolina, burung berwarna hijau terang dengan kepala kuning dan wajah kemerahan yang pernah hidup berkelompok di Amerika Utara.

Burung tersebut diburu bukan hanya untuk dikonsumsi. Bulu-bulunya digunakan sebagai aksesori mewah untuk topi wanita.

Sifatnya yang hidup berkelompok dan saling mendekat ketika salah satu burung ditembak justru membuat perburuan semakin mudah.

Penebangan hutan dan anggapan bahwa burung tersebut merupakan hama bagi petani turut mempercepat penurunan populasinya. Individu terakhir diketahui mati di kebun binatang pada 1918.

Ada pula kuangga, hewan Afrika Selatan yang sekilas menyerupai zebra. Bagian depan tubuhnya memiliki garis hitam putih, sementara garis tersebut semakin menghilang ke arah belakang hingga tubuhnya berubah menjadi cokelat.

Kuangga diburu untuk daging dan kulit. Populasinya terus menurun hingga individu terakhir yang diketahui mati di kebun binatang Amsterdam pada 1883.

Sumber: