Tradisi Burakan Maulid Nabi di Madura, Warga Berebut Buah hingga Peralatan Dapur
Alat-alat rumah tangga yang digantung untuk diperebutkan dalam tradisi Burakan di Bangkalan, Madura. -nu online jawa timur--
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Madura memiliki tradisi unik yang membuat suasana perayaan semakin meriah. Salah satunya tradisi burakan, yakni momen ketika warga berebut berbagai barang yang telah disiapkan tuan rumah setelah rangkaian pembacaan selawat dan doa.
Tradisi tersebut dapat ditemukan dalam perayaan Maulid di sejumlah wilayah Madura, terutama Bangkalan. Barang yang diperebutkan tidak hanya buah-buahan atau makanan. Peralatan rumah tangga seperti gelas, centong, gayung, sutil hingga wajan juga dapat digantung di halaman atau bagian bawah atap rumah untuk kemudian diambil warga.
Bagi masyarakat setempat, momen berebut bukan sekadar mendapatkan barang. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kegembiraan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi ruang berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga. Dalam sejumlah perayaan, warga bahkan meyakini makanan, buah maupun benda yang telah didoakan membawa keberkahan.
Burakan, Rebutan Barang setelah Selawat
Suasana burakan biasanya mencapai puncaknya setelah rangkaian pembacaan selawat atau bacaan Maulid selesai. Barang-barang yang sebelumnya telah digantung menjadi sasaran warga yang hadir.
Di Bangkalan, tradisi semacam ini disebut Konjhengan Molotan. Istilah tersebut merujuk pada kegiatan peringatan Maulid ketika warga diundang langsung oleh tuan rumah.
Puluhan barang dapat digantung di bagian bawah atap rumah. Ketika prosesi rebutan dimulai, warga berlomba mengambil barang yang berada dalam jangkauan mereka.
Jenis barangnya cukup beragam. Ada gelas, centong, gayung, hingga peralatan dapur lainnya. Dalam satu kesempatan, seseorang bahkan dapat memperoleh beberapa barang sekaligus. Namun, ada pula warga yang tidak mendapatkan apa-apa karena kalah cepat.
Bukan Hanya Peralatan Dapur
Tradisi burakan Maulid Nabi di Madura tidak selalu berupa perebutan peralatan rumah tangga. Bentuknya berbeda-beda bergantung pada daerah dan keluarga yang menjadi tuan rumah.
Di Bangkalan, misalnya, warga juga dapat berebut buah, uang kertas maupun uang koin. Bahkan, ada perayaan yang membagikan berbagai barang dalam jumlah cukup banyak kepada para tamu.
Pada 2024, salah satu perayaan Maulid di Bangkalan bahkan menjadi perhatian karena tamu memperoleh minuman dalam satu kardus sebagai bagian dari berkat yang dibawa pulang. Ada pula ember berisi jajanan dan keranjang yang berisi sembako.
Ada Makna Keberkahan
Tradisi berebut dalam perayaan Maulid di Madura memiliki latar belakang keyakinan mengenai keberkahan. Buah-buahan, uang, makanan maupun benda yang telah mengikuti rangkaian doa dan selawat dianggap memiliki nilai keberkahan bagi masyarakat yang mendapatkannya.
Kiai Zamzami Sabiq Hamid, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Sumenep, menjelaskan bahwa anak-anak yang berebut buah atau uang tidak semata-mata mengejar benda tersebut. Ada keyakinan bahwa sesuatu yang telah didoakan dalam acara Maulid membawa keberkahan.
Karena itu, tradisi rebutan tersebut telah menjadi bagian dari kegembiraan masyarakat, khususnya anak-anak, dalam menyambut bulan kelahiran Rasulullah.
Maulid di Madura Berlangsung Meriah
Perayaan Maulid Nabi di Madura memang memiliki karakter yang khas. Di sejumlah daerah, kegiatan tidak hanya berlangsung pada 12 Rabiul Awal. Tradisi moloden bahkan dapat dimulai sejak bulan Safar dan berlanjut hingga Rabiul Akhir.
Sumber: kemenag.go.id












