Semua Orang Bermata Biru Ternyata Berasal dari Satu Leluhur, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Sejarah Penemuan Ilmiah di Balik Asal-usul Pemilik Mata Biru di Dunia--Fairuz Ainur
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Warna mata manusia tidak hanya menjadi ciri fisik yang membedakan setiap individu, tetapi juga menyimpan kisah panjang evolusi manusia. Salah satu temuan paling menarik di bidang genetika mengungkap bahwa seluruh orang di dunia yang memiliki mata biru ternyata diyakini berasal dari satu leluhur yang sama.
Penemuan tersebut menjadi bukti bahwa perubahan kecil pada DNA mampu menciptakan variasi fisik yang bertahan selama ribuan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, warna mata biru masih menjadi salah satu karakter genetik paling menarik untuk dipelajari oleh para ilmuwan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Departemen Kedokteran Seluler dan Molekuler Universitas Kopenhagen, asal usul mata biru berawal dari satu mutasi genetik yang diperkirakan terjadi sekitar 6.000 hingga 10.000 tahun lalu. Sebelum mutasi tersebut muncul, para ilmuwan meyakini hampir seluruh populasi manusia memiliki warna mata cokelat.
Penelitian itu menemukan bahwa perubahan terjadi pada gen HERC2, yang berfungsi sebagai pengatur aktivitas gen OCA2. Gen OCA2 sendiri berperan dalam produksi melanin, yaitu pigmen yang menentukan warna mata, kulit, dan rambut.
Mutasi pada gen HERC2 tidak menciptakan pigmen baru. Sebaliknya, mutasi tersebut mengurangi kemampuan gen OCA2 menghasilkan melanin pada iris mata. Akibatnya, kadar pigmen menjadi jauh lebih sedikit sehingga iris tampak berwarna biru.
Para peneliti menyebut perubahan tersebut sebagai sebuah "sakelar genetik" yang mengurangi produksi pigmen tanpa menghilangkannya sepenuhnya. Karena itu, warna mata manusia tetap memiliki berbagai gradasi, mulai dari biru terang hingga abu-abu atau hijau kebiruan.
Temuan mengenai leluhur tunggal pemilik mata biru juga diperkuat melalui analisis DNA populasi manusia dari berbagai belahan dunia.
Berdasarkan kajian genetika evolusi yang dipublikasikan melalui National Center for Biotechnology Information (NCBI), seluruh individu bermata biru yang menjadi objek penelitian memiliki perubahan genetik yang identik pada lokasi DNA yang sama.
Kesamaan tersebut menunjukkan bahwa mutasi tidak muncul secara terpisah pada banyak orang. Sebaliknya, seluruh pewaris mata biru diyakini merupakan keturunan dari satu individu yang hidup di kawasan sekitar Laut Hitam pada masa Neolitikum.
Seiring perpindahan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain selama ribuan tahun, mutasi tersebut terus diwariskan hingga akhirnya menyebar ke berbagai kawasan dunia, terutama Eropa.
Kini, warna mata biru paling banyak ditemukan di negara-negara Eropa Utara dan Eropa Timur, meski penyebarannya telah menjangkau hampir seluruh benua melalui proses migrasi manusia.
Dari sudut pandang medis, warna mata biru tidak memberikan perbedaan berarti terhadap kemampuan penglihatan seseorang.
Menurut American Academy of Ophthalmology (AAO), iris yang memiliki kadar melanin lebih rendah memang membuat mata biru cenderung lebih sensitif terhadap cahaya terang dibandingkan mata berwarna cokelat.
Kondisi tersebut terjadi karena pigmen melanin berfungsi membantu menyerap cahaya yang masuk ke mata. Semakin sedikit kandungan melanin, semakin banyak cahaya yang dipantulkan sehingga sebagian orang bermata biru lebih mudah merasa silau saat berada di bawah sinar matahari atau pencahayaan yang sangat terang.
Meski demikian, sensitivitas tersebut bukanlah gangguan kesehatan dan umumnya dapat diatasi dengan menggunakan kacamata hitam ketika beraktivitas di luar ruangan.
Penelitian mengenai asal-usul mata biru menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan kecil pada susunan DNA dapat menghasilkan keragaman fisik manusia yang luar biasa.
Temuan ini juga memperlihatkan bahwa seluruh manusia memiliki hubungan genetik yang jauh lebih dekat daripada yang terlihat dari perbedaan warna kulit, rambut, maupun mata. Di balik keberagaman tersebut, manusia modern tetap berbagi sejarah evolusi yang saling terhubung sejak ribuan tahun silam.
Sumber: ku.dk









