Akseptor KB di Kota Batu Terus Turun, Pemkot Perluas Layanan ke RS dan Bidan Desa
Foto ilustrasi layanan Keluarga Berencana (KB)-Istimewa -Unusa.com
BATU, DISWAYMALANG.ID--Program Keluarga Berencana (KB) di Kota Batu belum menunjukkan tanda pemulihan. Data terbaru justru menunjukkan jumlah peserta KB aktif masih terus berkurang selama 3 periode terakhir.
Catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu menyebut, pada Januari 2025 jumlah peserta KB aktif masih 26.194 orang. Namun di akhir 2025 turun jadi 25.515 orang. Per Maret 2026 angkanya kembali anjlok ke 25.231 orang.
Totalnya, ada 963 akseptor yang lepas dalam kurun 14 bulan. "Penurunannya konsisten, meski tidak drastis. Tapi ini tetap jadi perhatian karena menyangkut pengendalian penduduk dan kesehatan keluarga," kata Kepala DP3AP2KB Kota Batu Heru Yulianto, Jumat (10/7/2026).
BACA JUGA:Wujudkan Kota Kreatif, Pemkot Batu Ajak Masyarakat Ikut Penilaian Mandiri KaTa Kreatif 2026
Merespons hal itu, Pemkot Batu memasang target mengejar 1.497 akseptor baru di sepanjang 2026. Angka ini mengacu pada arahan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Menurut Heru, target itu lebih rendah dibanding capaian 2025 yang tembus 1.827 akseptor baru. Namun, ia mengaku tetap menggenjot agar program tidak berhenti.
"Tahun ini, kontrasepsi jangka panjang jadi prioritas. Rinciannya: Implan 800 akseptor, IUD 630 akseptor, MOW 65 akseptor, dan MOP 2 akseptor," urainya.
BACA JUGA:Wujudkan Kota Kreatif, Pemkot Batu Ajak Masyarakat Ikut Penilaian Mandiri KaTa Kreatif 2026
Heru menyebutkan, pihaknya memperluas akses layanan KB untuk meningkatkan partisipasi. Pihaknya menggandeng 5 rumah sakit, termasuk RS Hasta Brata, RS Baptis, dan RS Punten.
Tidak hanya itu, Heru menegaskan, pihaknya juga meningkatkan kapasitas SDM. Kader, penyuluh, dan bidan diberi pelatihan. Bahkan untuk metode tertentu, pemerintah menyiapkan bantuan transportasi dan konsumsi.
"Selain rumah sakit, peran bidan desa juga kita kuatkan. Mereka tidak hanya konseling, tapi juga dibekali alat kontrasepsi agar warga bisa langsung dilayani di desa," tambahnya.
BACA JUGA:Geliat Produsen Tempe Desa Beji, Kota Batu, di Tengah Kenaikan Harga Kedelai Impor
Selain itu, Heru menguaraikan, penyebab turunnya partisipasi KB di Kota Batu masih terus dikaji. Dikatakannya, faktor yang memengaruhi cukup kompleks. Mulai dari preferensi tiap keluarga, perubahan pola pikir masyarakat, hingga dinamika sosial yang terus berkembang.
Dengan penguatan strategi tersebut, Pemkot Batu berharap tren penurunan bisa ditekan dan partisipasi KB kembali meningkat pada tahun ini. “Target akseptor baru harus tercapai agar pengendalian penduduk tetap terjaga,” tegasnya.
Sumber:

