Langkah Nyata Menuju Green Campus: FEB UB Luncurkan Dashboard Pemantauan Energi Cerdas
-ist-FEB UB
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan hidup bukan lagi sekadar slogan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB). Kampus ini baru saja melakukan lompatan teknologi yang signifikan dalam mendukung gerakan Green Campus.
Melalui inovasi yang digarap mandiri oleh tim Pengelola Sistem Informasi dan Kehumasan (PSIK), FEB UB resmi meluncurkan Dashboard Energy Monitoring, sebuah sistem audit dan pemantauan energi cerdas yang terintegrasi.
Hebatnya, platform digital ini tidak bersifat privat atau rahasia. Seluruh civitas academica —mulai mahasiswa, dosen, hingga staf—dapat mengakses laman ini kapan saja secara real-time.
Mengubah Data Konvensional Menjadi Transparansi Digital
Sebelum inovasi ini lahir, pemantauan daya listrik di lingkungan FEB UB masih mengandalkan alat pengukur konvensional. Petugas harus mengecek dan mencatat data secara manual dari satu gedung ke gedung lain. Proses ini tentu memakan waktu dan membuat data penggunaan energi cenderung menjadi "arsip pasif" yang sulit dievaluasi secara cepat.
Kini, wajah pengelolaan energi di FEB UB telah berubah total. Tim PSIK berhasil menyulap sistem manual tersebut menjadi ekosistem digital yang interaktif. Langkah strategis ini menjadi fondasi penting bagi pihak dekanat untuk memantau efisiensi energi sekaligus menekan jejak karbon (carbon footprint) di lingkungan kampus secara presisi.
Melalui dashboard teranyar ini, data mentah parameter listrik dari berbagai titik vital kampus—seperti Gedung E, Gedung F, Gedung Utama, hingga Dekanat Lama—tidak lagi sekadar deretan angka yang membingungkan. Sistem pintar ini bekerja otomatis mengolah data dari sensor arus (Fasa R, S, T) serta tegangan listrik menjadi informasi esensial yang sangat mudah dipahami.
Fitur Cerdas dalam Sekali Klik
Saat mengakses dashboard, pengguna akan disuguhkan dengan lima indikator utama yang memberikan gambaran utuh mengenai kondisi energi kampus hari itu:
- Beban Aktif (kW): Menampilkan fluktuasi beban listrik yang sedang berjalan secara real-time.
- Konsumsi Hari Ini (kWh): Akumulasi pemakaian total listrik harian di masing-masing gedung.
- Estimasi Biaya (Rp): Konversi langsung dari konsumsi energi ke dalam nilai rupiah, memudahkan manajemen dalam efisiensi anggaran.
- Jejak Karbon (kg CO_2): Estimasi emisi karbon yang dihasilkan dari penggunaan listrik.
- Butuh Serapan (Pohon): Sebuah indikator unik dan edukatif yang mengonversi emisi karbon menjadi jumlah pohon yang dibutuhkan untuk menyerap dampak lingkungan tersebut pada hari yang sama.
Sebagai gambaran nyata, dalam salah satu simulasi pantauan di Gedung E, sistem mencatat konsumsi energi harian sebesar 7,24 kWh. Angka ini menghasilkan jejak karbon setara dengan 6,15 kg CO_2. Menariknya, sistem langsung mengalkulasi bahwa dampak lingkungan tersebut membutuhkan setidaknya 103 pohon untuk menyerap emisinya. Visualisasi konkret seperti inilah yang diharapkan mampu menyentuh kesadaran personal warga kampus.
"Dengan adanya transparansi data ini, kita semua bisa mengecek kapan saja gedung mana yang penggunaan listriknya kurang efisien. Ini adalah basis data penting bagi kami untuk melakukan audit energi berkala demi menyukseskan gerakan Green Campus," Kata Dekan FEB UB Abdul Ghofar SE MSi MAcc DBA Ak CA.
Memantik Kesadaran Kolektif dari Ruang Kelas
Apresiasi tinggi datang langsung dari Dekan FEB UB. Beliau menegaskan bahwa inovasi dari tim PSIK ini bukan sekadar pameran pembaruan teknologi atau formalitas pemenuhan fasilitas. Lebih dari itu, dashboard ini adalah instrumen edukasi kultural agar seluruh warga kampus lebih bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan energi listrik.
Ketika mahasiswa melihat langsung bagaimana menyalakan lampu atau pendingin ruangan (AC) berlebih di kelas berdampak pada peningkatan angka "kebutuhan pohon" di dashboard, diharapkan muncul rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ke depan, FEB UB berkomitmen untuk tidak berhenti di sini. Sistem pemantauan cerdas ini akan terus dioptimalkan dan diintegrasikan ke seluruh sudut gedung fakultas tanpa terkecuali. Dengan akses informasi yang terbuka lebar setiap waktu, PSIK FEB UB berharap inovasi ini dapat menjadi pemantik kesadaran kolektif. Menjaga bumi, bagaimanapun, harus dimulai dari langkah terkecil di lingkungan terdekat kita: ruang kelas dan selasar kampus.
Sumber:

