1 tahun disway

761 Warga Kota Batu Lepas KB dalam Setahun, Partisipasi Turun Jadi 70 Persen

761 Warga Kota Batu Lepas KB dalam Setahun, Partisipasi Turun Jadi 70 Persen

Ilustrasi pasangan sedang konsultasi dengan dokter soal KB-Halodoc.com-

BATU, DISWAYAMALANG.ID—Angka keikutsertaan program Keluarga Berencana (KB) di Kota Batu terus melandai. Data setahun terakhir menunjukkan ada 761 orang yang berhenti menjadi peserta KB aktif.

Penurunan tersebut menjadi sorotan Pemkot Batu karena KB merupakan salah satu kunci mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan menciptakan keluarga yang berkualitas.

Berdasarkan catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu, jumlah peserta aktif pada Januari 2025 tercatat 26.194 orang. 

BACA JUGA:Proyek Preservasi Simpang Patih Kota Batu Dimulai, Dishub Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

Kepala DP3AP2KB Kota Batu Heru Yulianto menyebut, angka itu terus menyusut hingga menjadi 25.515 orang pada Desember 2025. Tren serupa berlanjut di 2026. Per Januari ada 25.433 peserta, dan per Maret tersisa 25.231 orang.

"Per Maret 2026 tinggal 25.231 peserta. Jadi memang trennya menurun sejak tahun lalu," katanya, Jumat (3/7/2026).

Heru menguraikan, saat ini total Pasangan Usia Subur (PUS) di Kota Batu mencapai 35.703 pasangan. Dengan jumlah peserta aktif 25.231, cakupan KB berada di level 70 persen. 

"Meski masih tinggi, penurunan yang konsisten ini harus segera disikapi," imbuhnya.

BACA JUGA:Komitmen Reformasi Birokrasi Bersih, DPRD Kabupaten Malang Desak Sekda Awasi Potensi Praktik Calo Mutasi Jabat

Heru membeberkan beberapa faktor di balik turunnya angka peserta KB. Di antaranya, sejumlah pasangan memilih lepas KB karena berencana menambah momongan. Faktor lain, peserta yang meninggal dunia dan pengaruh sosial-budaya.

"Masih ada pandangan di masyarakat yang membuat sebagian pasangan ragu memakai kontrasepsi," jelasnya.

Ia memastikan penurunan ini bukan karena layanan sulit dijangkau. Menurutnya, akses layanan KB di Kota Batu sudah merata. Mulai RS, puskesmas, sampai bidan desa sudah menjangkau hampir semua wilayah, termasuk pelosok.

"Penurunan ini murni karena kerelaan peserta yang memutuskan untuk berhenti," tegas Heru 

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP3AP2KB, Sintinche Agustina Pamungkas, menambahkan implan masih menjadi metode kontrasepsi yang paling diminati. Alasannya praktis, efektif, dan bisa dilepas kapan saja jika ingin hamil lagi. 

Sumber: