Dokar Wisata Terancam Punah, Pemkot Batu Siapkan Strategi Penyelamatan
Dokar Wisata yang beroperasi di Alun Alun Kota Batu-Sholeh-Diswaymalang.id
BATU, DISWAYMALANG.ID--Angkutan dokar wisata yang menjadi ciri khas Kota Batu kini menghadapi ancaman regenerasi. Jumlah kusir yang semakin tua dan berkurangnya armada di lapangan membuat keberadaan warisan budaya ini dikhawatirkan akan hilang dari kawasan wisata.
Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata menyatakan komitmennya untuk mempertahankan eksistensi dokar agar tidak tergerus zaman. Saat ini, Dokar Wisata hanya beroperasi di Alun Alun Kota Batu. Mereka melayani wisatawan untuk berkeliling sekitar alun alun saja.
BACA JUGA:Harga Telur Anjlok Dipicu Minimnya Serapan oleh MBG, ‘Libur Hajatan’ Bulan Suro, dan Libur Sekolah
Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto menyebut dokar memiliki peran krusial dalam menjaga nilai sejarah dan daya tarik otentik Kota Batu. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyusun kebijakan operasional yang lebih berpihak pada kesejahteraan kusir.
"Sejatinya dokar adalah kendaraan tradisional yang harus kita jaga keberadaannya. Saat ini jumlahnya terus berkurang, dan kusirnya pun sudah banyak yang sepuh," kata Onny, Senin (29/6/2026).
Naik dokar keliling Alun-Alun Batu ternyata bisa dinikmati secara gratis pada hari kerja. Mulai Senin sampai Jumat Pemkot Batu menyediakan layanan dokar gratis sebagai program wisata yang sudah berjalan sejak era kepemimpinan Wali Kota Edy Rumpoko. Pada hari-hari biasa, para kusir mendapat jadwal piket bergantian untuk mengoperasikan dokar tanpa dipungut biaya.
BACA JUGA:Wali Kota Batu Nurochman Ajak Warga Jaga Warisan Leluhur lewat Merti Bumi
Sebagai bentuk perlindungan, Pemkot menerapkan program dokar gratis secara situasional. Usulan dari akademisi untuk memperluas layanan gratis sampai akhir pekan ditolak.
Onny menjelaskan, kebijakan ini diambil dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan kondisi fisik kusir yang mayoritas sudah lansia.
"Usulan dari akademisi itu minta gratisnya jangan hanya Senin-Jumat. Tapi kami tetap mengedepankan sisi humanis," jelasnya.
Menurut data Disparta, jika digratiskan saat weekend, kusir justru rugi dan kelelahan. Pada hari biasa dokar biasanya hanya dua kali jalan, sementara akhir pekan bisa mencapai 10 kali putaran.
"Kalau Sabtu-Minggu ramai tapi gratis, kasihan mereka. Bisa-bisa malah rugi. Weekday cukup dua putaran, weekend bisa sampai 10 kali. Jadi rugi," ujar mantan Kadis Kominfo itu.
Selain skema tarif, Pemkot juga rutin menyalurkan insentif bulanan bagi kusir. Untuk meningkatkan tampilan di area wisata, Disparta berencana memberikan bantuan seragam baru agar tampil lebih seragam.
"Rencananya ada insentif berupa baju supaya lebih rapi. Kalau insentif bulanan masih terus berjalan," tegas Onny.
Sumber:


