1 tahun disway

Moya-Moya Bisa Picu Stroke! Kenali Gejala, Penyebab, hingga Cara Mencegah Risikonya

Moya-Moya Bisa Picu Stroke! Kenali Gejala, Penyebab, hingga Cara Mencegah Risikonya

Penyakit Moya-Moya dapat memicu stroke, bahkan pada usia muda. Kenali gejala, penyebab, dan pentingnya deteksi dini agar risiko komplikasi bisa dicegah lebih cepat.--

MALANG, DISWAYMALANG.ID-Penyakit Moya-Moya menjadi sorotan setelah Kementerian Kesehatan RI mengingatkan masyarakat bahwa kondisi langka ini dapat memicu stroke, termasuk pada usia muda.

Moya-Moya merupakan gangguan pada pembuluh darah otak yang menyebabkan arteri utama di otak menyempit secara perlahan. Akibatnya, aliran darah menuju otak berkurang sehingga tubuh membentuk pembuluh darah kecil baru sebagai jalur alternatif.

Nama “Moya-Moya” berasal dari bahasa Jepang yang berarti “kepulan asap”. Istilah tersebut muncul karena hasil pemeriksaan pembuluh darah otak pada penderita tampak menyerupai asap tipis.

Dikutip dari informasi resmi Kementerian Kesehatan RI dan RS Pusat Otak Nasional (PON)  Mahar Mardjono, Kamis (7/5/2026), penyakit ini dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa dan berisiko memicu stroke berulang apabila tidak segera ditangani.

BACA JUGA:Cuma Butuh 2 Jam Ludes Terjual! Siomay Viral di Kawasan ABM, Harga Seribuan Jadi Incaran Mahasiswa

Gejala Penyakit Moya-Moya

Gejala Moya-Moya sering kali menyerupai stroke biasa sehingga kerap tidak disadari sejak awal. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Sakit kepala mendadak
  • Tubuh lemas sebelah
  • Gangguan bicara
  • Wajah mencong
  • Kejang
  • Pandangan kabur
  • Penurunan kesadaran
  • Kesulitan bergerak atau berjalan

Pada anak-anak, gejala juga bisa muncul saat menangis, kelelahan, atau setelah aktivitas berat akibat perubahan aliran darah ke otak.

BACA JUGA:Waspada Ancaman Fatal Hantavirus dan Pentingnya Menjaga Kebersihan Lingkungan

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab pasti penyakit Moya-Moya belum diketahui secara jelas. Namun, beberapa faktor diduga meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini, di antaranya:

  • Faktor keturunan atau genetik
  • Riwayat keluarga dengan penyakit serupa
  • Kelainan pembuluh darah bawaan
  • Lebih sering ditemukan pada populasi Asia
  • Memiliki penyakit tertentu seperti sindrom Down, anemia sel sabit, atau gangguan tiroid

Penyakit ini paling banyak ditemukan pada usia di bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun.

BACA JUGA:Hantavirus Menular dari Tikus, WHO Lacak Penumpang Pesawat terkait Kematian Pasien Terinfeksi

Cara Mengurangi Risiko dan Mencegah Komplikasi

Sumber: kementerian kesehatan ri dan rspon mahar mardjono