1 tahun disway

FK UB Gelar Kuliah Umum GBD, Dorong Riset Berbasis Data Global dan Kolaborasi dengan BRIN

FK UB Gelar Kuliah Umum GBD, Dorong Riset Berbasis Data Global dan Kolaborasi dengan BRIN

Foto bersama peserta kuliah tamu FK UB--prasetya.ub.ac.id

MALANG, DISWAYMALANG.ID – Universitas Brawijaya (UB) kembali menguatkan riset dan atmosfer akademik melalui kuliah umum bertema From Global Burden of Disease (GBD) to Impact: Kolaborasi Akademik UB dengan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). 

GBD merupakan studi global yang digagas oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di University of Washington dan melibatkan ribuan peneliti dari berbagai negara. Studi ini banyak digunakan oleh pemerintah dan organisasi internasional sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan kesehatan berbasis bukti (evidence-based policy).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran (FK)  ini diikuti berbagai elemen sivitas akademika, mulai dosen, mahasiswa, peneliti, hingga tenaga kependidikan.  

BACA JUGA:KlubWiki UB Sumbangkan 22 Artikel ke Wikipedia melalui Wikiliteratur 2026

Dikutip dari laman resmi UB, Jumat (1/5/2026), Dekan FK UB Prof Dr dr Wisnu Barlianto MSi Med SpA(K) turut menyoroti kompleksitas persoalan kesehatan global saat ini. Ia menegaskan bahwa penyelesaian masalah kesehatan butuh pendekatan multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang, mulai kedokteran hingga kebijakan publik.

“Kolaborasi riset lintasdisiplin menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas publikasi internasional dan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Ia juga berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi pemicu lahirnya budaya kolaboratif di kalangan dosen dan mahasiswa, sekaligus memperkuat posisi FK UB sebagai pusat riset kesehatan yang kompetitif di tingkat internasional.

BACA JUGA:Mahasiswa FILKOM UB Raih Predikat Mahasiswa Disabilitas Berprestasi 2026

Kuliah umum ini menghadirkan dua narasumber di bidang riset kesehatan global. Peneliti BRIN Dr Wahyu Pudji Nugraheni SKM MKes memaparkan konsep dasar GBD. Termasuk metode pengukuran seperti Disability-Adjusted Life Years (DALYs), yaitu indikator yang menggabungkan angka kematian dini dan tahun hidup dengan disabilitas.

Ia menjelaskan, data GBD dapat membantu menentukan prioritas intervensi kesehatan, mulai pencegahan penyakit hingga alokasi anggaran. Selain itu, data tersebut juga membuka peluang besar bagi akademisi untuk mengembangkan riset yang lebih terarah dan berdampak.

Sementara itu, Dr Lilik Zuhriyah SKM MKes sebagai Senior GBD Collaborator berbagi pengalaman terkait keterlibatannya dalam jejaring riset internasional. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam publikasi ilmiah, penguasaan metodologi, serta kemampuan bekerja dalam tim lintasnegara.

BACA JUGA:Driver Dapat BPJS dan Bagi Hasil 92 Persen, Perpres Ojol 2026 Diteken Presiden

Menurutnya, peluang bagi peneliti Indonesia untuk terlibat dalam riset global terbuka lebar, asalkan diimbangi dengan kesiapan dan komitmen jangka panjang. Ia juga mendorong mahasiswa untuk mulai aktif menulis, mengikuti konferensi, serta membangun jejaring sejak dini.

Tak hanya sesi pemaparan, kuliah umum GBD yang digelar Rabu (29/4/2026) lalu di Auditorium Lantai 10 Gedung Pendidikan Bersama (GPB) FK UB itu juga dilengkapi diskusi interaktif yang berlangsung dinamis. Peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali informasi seputar kolaborasi riset, pendanaan, hingga strategi menembus publikasi internasional.

Sumber: prasetya.ub.ac.id