Perang Iran Bikin Pasokan Minyak dari Timur Tengah Macet, RI Punya Cadangan BBM 1-2 Bulan ke Depan
Kapal tanker minyak ditembak Angkatan Laut Garda Revolusi Republik Islam Iran saat melintasi Selat Hormuz, Minggu (1/3/2026). -foto: @BullTheoryio/X --
JAKARTA, DISWAYMALANG.ID–Perang Iran berdampak pada terhentinya pasokan minyak dunia. Namun demikian, pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih aman dalam satu hingga dua bulan ke depan meski konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global.
“Sampai dengan satu atau dua bulan ke depan insya Allah kita masih clear, insya Allah nggak ada masalah,” terang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Bahlil Lahadalia, Rabu (4/3).
Persoalannya, sampai kapan pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memblokir Selat Hormuz yang menjadi lalu lintas kapal tanker BBM di Timur Tengah. Sejauh ini, pasukan Iran menyerang kapal dari mana pun yang mencoba melintas. Sebelumnya sebuah kapal tanker yang melintas diledakkan.
"Saat ini, Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Angkatan Laut Republik Islam," tegas pejabat Angkatan Laut Korps IRGC Mohammad Akbarzadeh dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars dan dilansir AFP, Rabu (4/3/2026).
IRGC sebelumnya melaporkan pasukannya telah menyerang sebuah kapal tanker bahan bakar yang berasal dari negara sekutu AS di perairan Selat Hormuz, hingga memicu kebakaran pada kapal tersebut. Teheran menuduh kapal tanker itu berusaha melintasi Selat Hormuz "secara ilegal".
Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang menangani sekitar seperlima dari perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair yang signifikan dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen dari konsumsi minyak harian global -- sekitar 20 juta barel -- melewati koridor ini.
BACA JUGA:Cuaca Malang Raya 5 Maret Hujan Ringan-Berawan, BMKG Kembali Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem
Terkait dengan potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, 25 persen minyak mentah (crude) yang diimpor Indonesia selama ini berasal dari wilayah Timur Tengah dan melewati jalur strategis Selat Hormuz.
“Dan dari 25 persen itu kita sudah mengalihkan antisipasinya ke Amerika, atau ke negara-negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz, itu aja," katanya.
Ia menyebut bahwa kemampuan daya tampung cadangan BBM nasional hanya mampu menampung persediaan maksimal 25 hari. Karena keterbatasan kapasitas penyimpanan, cadangan maksimal BBM Indonesia umumnya berada di kisaran 20-23 hari.
BACA JUGA:Hall Timur Resmi Beroperasi, Akses Penumpang Stasiun Kepanjen Kini Lebih Cepat dan Efisien
“Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari, jadi sudah di atas standar minimal nasional yang sebagaimana lazimnya,” tutur Bahlil.
Menurut Bahlil, kondisi tersebut bukan berarti pemerintah tidak memiliki pasokan minyak untuk menambah cadangan, melainkan karena keterbatasan fasilitas penyimpanan (storage).
Sumber: harian.disway.id
